Oleh: Muhammad Harsya Bachtiar, Lc. M.A.

Amerika bergejolak! Inilah headline utama yang banyak berseliweran di media sosial akhir-akhir ini. Usut punya usut, pemicunya adalah kasus kematian seorang warga kulit hitam bernama George Floyd. Pelakunya, seorang oknum polisi kulit putih di negara bagian Minnesota, diduga bermuatan Rasisme.

Rasisme merupakan perbuatan membedakan manusia berdasarkan warna kulit dan menganggap orang yang berwarna kulit satu lebih mulia ketimbang warna kulit lainnya. Ia adalah persoalan utama yang masih belum bisa dituntaskan oleh negara-negara adidaya, termasuk banyak negara-negara maju di belahan dunia barat sana.

Di Italia misalnya, seorang pemain bola berkulit hitam bernama Mario Balotelli harus mengalami tindakan rasis manakala klubnya Brescia bertanding melawan klub ibukota Lazio pada tanggal 06/01/2020. Tak jauh sebelumnya pesepakbola berkulit hitam lainnya bernama Romelu Lukaku mendapatkan kasus yang sama tatkala bermain bersama klubnya Inter Milan menghadapi Cagliari pada tanggal 02/09/2019 di negara yang sama. Makanya, hingga saat ini negara-negara maju tersebut masih terlihat sibuk mencari-cari formula yang tepat agar dapat mengatasi problem kemanusiaan yang satu ini.

Adapun dalam Islam, sejak fajar agama yang mulia ini terbit 1400 tahun yang lalu, tetap konsisten mengajarkan nilai-nilai luhur yang bersifat anti Rasisme dan anti terhadap perbuatan-perbuatan diskriminatif lainnya. Lihatlah, bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengangkat seorang mantan budak berkulit hitam bernama Bilal bin Rabbah menjadi orang paling dipercaya dalam mengumandangkan azan. Atau, bagaimana seorang sahabat berkulit hitam bernama Usamah bin Zaid dipercayai menjadi pemimpin pasukan perang terbesar yang diutus ke negeri Syam. Sementara di dalam pasukan itu terdapat banyak sahabat senior berkulit putih seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab rhadiyallahu anhuma.

Contoh paling nyata bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerangi Rasisme, sikap beliau menghardik sahabatnya yang mulia Abu Dzar ketika mencela Bilal bin Rabbah dengan menyinggung warna kulitnya, dengan marah beliau berkata: “Sungguh pada dirimu masih ada kebiasaan jahiliyah”.

Belum lagi ditambah dengan banyaknya sabda-sabda Rasulullah yang menyerukan akan hal tersebut, juga firman Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Bahwa manusia di hadapan Allah tidak ada perbedaan baik warna kulit, suku, dan selainnya. Hanyasaja, yang membedakan mereka adalah ketakwaan. Di antaranya adalah:

Pertama: Firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 13:

 (إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىكُمۡۚ)

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

Kedua: Firman Allah dalam Surat Al-Hujurat ayat 11:

)يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖ(

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan janganlah pula sekelompok perempuan-perempuan (mengolok-olok) sekelompok perempuan-perempuan lainnya (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok).”

Ketiga: Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

(أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى) رواه أحمد وصححه الألباني

“Dan sekali-kali sesungguhnya tidak ada keutamaan Arab di atas Ajam (non Arab) dan keutamaan Ajam di atas Arab, serta keutamaan hitam (kulit) di atas merah kecuali dengan ketaqwaan”. (HR.Ahmad dan disahihkan oleh Albani).

Keempat: Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

(إن الله لا ينظر إلى أجسادكم ولا إلى صوركم ولكن ينظر إلى قلوبكم) رواه مسلم.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad kalian dan juga rupa kalian tetapi kepada hati kalian”. (HR.Muslim).

Dan masih banyak lagi dalil-dalil lain yang menunjukkan betapa Islam adalah ajaran agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kemanusiaan. Dan bahwasanya Islam adalah agama yang tidak membeda-bedakan antara manusia satu dan yang lainnya berdasarkan warna kulitnya (Rasisme), atau berdasarkan dengan hal lainnya kecuali berdasarkan tingkat ketaqwaannya di sisi Allah ta’ala. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Komentar

By admin