Tidak ada yang kekal di dunia ini. Itulah Sunnatullah. Al-Qur’an menarasikan “hukum besi” dari Sunnatullah ini dalam kisah manusia dan umat-umat terdahulu. Dijelaskannya faktor-faktor kebangkitan dan kehancuran. Semuanya agar kaum beriman mengambil pelajaran dan ibrah.

Dalam Surah Hud, misalnya, Al-Qur’an mengangkat kisah beberapa Nabi dan umatnya. Ada Nabi Nuh, ‘Aad, Shalih, Luth, Syu’aib, Musa. Semua kisah tersebut menguraikan sebab-sebab kahancuran umat dari Nabi-nabi tersebut.

Dalam sejarah kontemporer, Sunnatullah yang sama bisa kita saksikan pada gerakan Revolusi Khomeini di Iran yang pecah pada tahun 1979.

Pada saat itu, sebagian tokoh dan banyak kelompok kaum Muslimin yang bersimpati. Mereka berpikir bahwa Revolusi inilah yang akan jadi pintu gerbang bagi membebaskan Masjid Al-Aqsa dan membebaskan Palestina dari cengkeraman Zionis-Yahudi.

Kelompok ini mengira bahwa kehormatan umat Islam akan pulih di tangan para mullah dari Teheran dan di bawah kepemimpinan Khomeini, yang justru datang dari pengasingannya di Prancis.

Selanjutnya, bendera hitam berkibar dari jantung kota Teheran menyusul terjungkalnya rezim Shah Mohammad Reza Pahlevi. Di periode yang sarat euforia itu, hampir tidak ada suara yang berani mengkritik revolusi Iran kecuali tentu saja segelintir ulama dan cendekiawan.

Beberapa dari mereka yang menulis kritik menghindari mencantumkan nama asli mereka, seperti buku-buku Wa Jaa’a Daurul Majus, As-Shira’ al-Arabi al-Isra’ili, Amal wal Mukhayyomat al-Filasthiniyyah, dll.

Namun ada juga yang berani tampil secara terbuka mengkritik revolusi Khomeini. Cendekiawan asal Pakistan Ehsan Elahi Zahir, salah satunya. Tokoh ini kemudian dibungkam lewat sebuah ledakan bom yang diselipkan oknum Syiah ke dalam vas dalam event ceramahnya di Lahore, Pakistan pada tahun 1407 H.

Akibat ledakan tersebut, sejumlah ulama Pakistan jadi korban, baik yang terbunuh maupun terluka. Zahir sendiri menderita luka serius. Dia kemudian dibawa berobat ke Saudi Arabia atas perintah langsung dari Raja Fahd. Namun takdir ulama ini berakhir di sana hingga dimakamkan di pekuburan Baqi’ di kota Madinah, Rahimahumullah.

Para ulama terebut mengingatkan masyarakat dan kaum Muslimin terhadap bahaya dari Revolusi Khomeini. Kajian mereka menyingkap kembali latar belakang doktrin, sejarah, serta fase dari komunitas ini yang terpendam selama berabad-abad. Ulama-ulama ini memperingatkan konsekuensi dan pola gerakan dari ajaran ini.

Di tengah perang baru yang meletus antara rezim Iran dan kubu Israel/AS pasca Genosida Israel di Gaza, sebagian pihak mengungkapkan kekhawatiran terhadap dampak dari kehancuran rezim Iran.

Argumentasi kelompok ini terutama pada konsekuensi dari kehancuran rezim Iran yang dipersepsikan bakal menciptakan kekosongan baru di Timur Tengah. Akibatnya, terbuka kesempatan bagi kekuatan Zionisme global untuk menjadi poros kekuatan tunggal yang dominan di kawasan.

Sayangnya, tesis ini mengabaikan sejumlah fakta berikut.

Pertama, doktrin dan praktik rezim Iran yang memusuhi masyarakat Sunni yang kembali berulang dalam reaksi panik akibat serangan Israel/AS. Militer Iran justru memperluas “bara” perang dengan tembakan rudal dan serangan drone yang ditujukan kepada kota-kota negara Arab Teluk.

Kedua, peran gerakan dan selanjutnya rezim Iran dalam menciptakan kehancuran di negeri-negeri Sunni. Dimulai dengan pemanfaatan suplai senjata dari Israel dalam perangnya Iran-Irak, hingga pengkhianatan pengikut Syiah Irak dengan membuka jalan bagi suksesnya invasi AS di Irak dan Afghanistan.

Berikutnya, AS juga memanfaatkan gerakan Syiah di Irak dalam rangka menghabisi kekuatan Sunni, termasuk tokoh-tokoh Sunni yang menonjol.

Ketiga, bagi Barat, posisi Iran saat ini telah melampaui peran dan kapasitasnya. Proxy Iran telah melangkah terlalu jauh dalam politik dan kekuasaannya yang telah tersebar dari Irak, Suriah, Lebanon, Yaman, dan Palestina.

Dengan posisi tersebut, Iran justru telah berubah menjadi ancaman serius terhadap kepentingan Zionis global. Walaupun selama ini peran rezim Iran telah berkontribusi dalam transaksi senjata negara-negara Arab, menjadi kekuatan yang memecah masyarakat Muslim, dan menyandera gerakan kemerdekaan Palestina dalam kerangka proxy Iran.

Keempat, peran Iran selama ini yang berhasil tampil sebagai monster di Timur Tengah berhasil memosisikan Israel sebagai aliansi ter-aman bagi rezim-rezim Arab. Akibatnya adalah gelombang normalisasi yang menguntungkan Israel dan melemahkan citra rezim negara-negara Arab di mata rakyatnya.

Kelima, Barat Israel pada beberapa dekade silam telah berhasil menguras potensi umat bahkan melemahkannya lewat politiknya yang sengaja “memelihara” rezim Iran. Dalam periode tersebut, Iran sukses jadi alat efektif dalam menciptakan perpecahan bahkan konflik di kalangan umat Islam.

Perang dan konflik Iran vs. Israel/AS yang terjadi saat ini alhasil adalah perang antara dua kubu dengan agenda dan ambisi penjajahannya sendiri. Keduanya hanya bertempur untuk memperebutkan kue dominasi politik dan militer di Timur Tengah.

By admin