REZIM SUNNI DI TENGAH PERANG ISRAEL-AS LAWAN IRAN
Entitas penjajah Israel dengan dukungan rezim radikal AS sedang bekerja keras untuk membentuk kembali peta politik Timur Tengah. Proyek yang akan berdampak positif terhadap gagasan “Abrahamic religion” di kawasan atau bahkan “Israel Raya” versi Zionis.
Di sisi lain, Iran yang Syiah khawatir akan terhapus dari peta. Tidak heran jika rezim Iran melakukan perlawanan balik yang sengit dan penuh semangat patriotik. Elite Syiah yang berkuasa tidak rela negaranya jatuh ke tangan oposisi; sehingga proyek “Bulan Sabit Syiah” dan “Poros Perlawanan” yang selama ini terbangun jadi berantakan begitu saja..
APAKAH KITA HARUS MEMBELA IRAN?
Secara gamblang, Iran adalah negara kriminal. Negara ini telah menghalalkan darah warga banyak negara di kawasan berdasarkan sentimen sektarian yang akut dan mendalam. Bukan sekadar kepentingan politik jangka pendek. Rezim ini telah membunuh umat Islam dalam jumlah yang bahkan tidak dilakukan oleh Zionis.
Pinggirkan dulu slogan dan vonis kelompok. Mari melihat fakta-fakta. Pembunuhan ratusan ribu kaum Sunni di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman oleh rezim Mullah di Iran—baik secara langsung maupun dengan dukungan rezim atau lewat milisi—adalah fakta. Sentimen sektarian sangat nyata di sana.
Iran, secara ideologis dan ajaran resmi dalam kitab-kitab akidah utamanya menganggap kafir siapa pun yang tidak beriman bahwa Rasulullah SAW telah menetapkan Ali bin Abi Thalib RA sebagai Imam, dan karena hal-hal lainnya. Itulah salah satu inti akidah Imamah dalam Syiah.
Kalangan awam Syiah mungkin tidak vulgar dalam narasi mengafirkan kelompok di luar Syiah, khususnya bagi mereka yang tidak menentang dan memilih diam atau tunduk. Namun, narasi kafir itu akan muncul segera saat terjadi perselisihan atau benturan pertama.
Lantas, kemenangan agama model apa yang diharapkan dari tangan orang-orang yang mengafirkan para Sahabat? Al-Aqsa yang dibebaskan oleh Khalifah Umar RA kemudian oleh Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi mustahil akan dibebaskan oleh mereka yang mengafirkan Umar dan Shalahuddin!
TAPI IRAN-SYIAH TELAH MEMBELA AL-AQSA YANG DITERLANTARKAN OLEH AHLUSSUNNAH?
Mudah-mudahan Iran-Syiah benar-benar tulus mencintai Al-Aqsa dan Palestina. Penyimpangan akidah Syiah memang tidak berarti bahwa mereka benci Al-Aqsa. Mudah-mudahan juga Iran-Syiah benci hingga ke ujung rambut terhadap penjajah Zionis. Namun, apakah Iran-Syiah siap melakukan perang besar demi membela Al-Aqsa?
Kalau Iran-Syiah siap, apa visi agama Syiah terhadap Al-Aqsa? Apakah Al-Aqsa akan jadi masjid baru tempat para Sahabat Nabi dilaknat dan agama Syiah disebarkan? Masih ingat kondisi Masjid Umayyah di Damaskus di era Bashar Al-Assad kemarin?
Tapi Ahlus Sunnah telah mengkhianati Al-Aqsa dan Palestina!
Sebentar, mari bedah lebih dalam. Di sini penting untuk membedakan antara dua kelompok Sunni: penelantaran oleh mayoritas yang mengaku Sunni, dan kondisi elite Sunni yang terpelajar dan berjuang.
Khalayak umum telah menelantarkan sesuatu yang lebih besar daripada Al-Aqsa. Kaum Muslimin sebelumnya telah menelantarkan syariat Allah. Agama Allah Ta’ala telah banyak ditinggalkan dari segi keilmuan dan penerapan. Kecuali dalam ritual agama yang terbatas.
Sebaliknya, elite Sunni yang terpelajar tidak pernah berhenti menyuarakan pembebasan bagi Al-Aqsa dan bagi bangsa-bangsa kaum Muslimin. Hati dan aksi kelompok kedua ini membenci kebatilan, menolak untuk membela kezaliman, serta menyerukan persatuan dalam membela agama. Namun, kelompok ini termasuk dalam kategori orang-orang yang dilemahkan (mustadh’afun), sebagaimana kaum Muslimin di Baitul Maqdis dan Gaza.
Pejuang Palestina dan Gaza atau mayoritasnya tidak masuk dalam kategori penganut agama Syiah. Kelompok-kelompok perjuangan di Gaza tidak satu dua kali menegaskan akidah Sunni yang tetap jadi pegangan mereka.
KEKALAHAN IRAN AKAN MEMBAWA BENCANA BAGI UMAT ISLAM!
Ahlus Sunnah pada dasarnya sudah hidup dalam bencana berkepanjangan. Posisi kita berada persis di tepi jurang peradaban.
Namun, kemenangan entitas Zionis akan menjadi bencana besar baru yang dampaknya tidak terbayangkan oleh banyak orang. Kemenangan Zionis berarti menciptakan rezim pro-Israel yang vulgar di sebuah negara sebesar Iran.
Pengganti rezim Mullah pada skenario tersebut adalah sekelompok ateis kebarat-baratan yang siap melakukan kesepakatan apa pun dengan Zionis, demi menjaga kepentingan politik kelompoknya. Bagi Zionis, potensi terwujudnya “Israel Raya” akan semakin besar dan cepat. Sebab, rezim-rezim Arab semakin ketakutan dan lemah.
Oleh karena itu, rezim Mullah yang bertahan walaupun lemah adalah bahaya yang lebih ringan; dibandingkan jika Zionis yang menguasai Iran. Sebagian keburukan memang lebih ringan daripada yang lain. Adapun solusi sesungguhnya ada pada kebangkitan Ahlus Sunnah.
APA KEWAJIBAN KITA?
Imam Al-Auza’i berkata: “Jika Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum, Dia akan membuat mereka terjebak dalam perdebatan dan menghalangi mereka dari beramal.”
Mari melakukan hal-hal yang betul-betul produktif. Hari ini, kelompok Ahlus Sunnah hanya “penonton”. Solusi mungkin belum akan datang dalam waktu dekat. Karena kemenangan itu punya hukum-hukumnya sendiri (Sunnatullah). Dan salah satu yang utama adalah mengagungkan perintah Allah dalam jiwa.
Hari ini, penyakit akidah masih luas di negeri-negeri kaum Muslimin. Virus sekularisme, liberalisme, dan feminisme sangat mewabah. Sebagai umat, kita harus bertobat lalu bangkit di atas kaki sendiri. Kita tidak akan pernah menang dengan bergantung pada rezim Arab yang sekuler atau negara Syiah.
“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu.”
Kita harus menolong hakikat agama dalam diri dan realitas kita, agar layak mendapatkan pertolongan Allah. Siapa pun yang memiliki proyek perbaikan, hendaknya melanjutkan dan meningkatkannya. Jika kebenaran belum menang di tangan Anda, wariskan perjuangan ini kepada anak-anak Anda. Hingga kebaikan dan keadilan syariat Allah kembali mengayomi dunia.
“Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku tidak akan pernah menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.”


