PENYIMPANGAN DAN PERBEDAAN ASY’ARIYAH DARI AQIDAH IMAM MAZHAB EMPAT

Alih bahasa dari web: https://dorar.net/article/2134

Dengan judul asli: مخالَفةُ الأشَاعرةِ لمُعتقدِ أئمَّةِ المذاهبِ الفِقهيَّةِ الأربعةِ

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memudahkan jalan-jalan petunjuk bagi seluruh makhluk, dan memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menempuhnya agar mereka termasuk orang-orang yang bertakwa. Kami bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, satu-satunya, tiada sekutu bagi-Nya; Tuhan yang pertama dan yang terakhir.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Asy-Syura: 11).

Dan kami bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang Dia pilih dari makhluk-Nya, dijadikan-Nya sebagai pemegang amanah wahyu-Nya, dan duta antara Dia dan hamba-hamba-Nya. Dia diutus dengan agama yang lurus dan jalan yang benar, diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, dan Allah mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk menaati dan memuliakannya, mencintainya dan menunaikan hak-haknya. Dia menggantungkan kebahagiaan pada mengikutinya, dan menjadikan kesengsaraan pada menyelisihinya. Semoga shalawat, salam, dan keberkahan Allah tercurah kepadanya, keluarganya, dan sahabatnya. Amma Ba’du:

Para pengikut Asy’ariyah dari kalangan muta’akhkhirin (belakangan) dalam fikih mengikuti salah satu dari dua imam agung: Malik bin Anas dan Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. Mereka sangat teliti dalam meriwayatkan perkataan keduanya, bertaqlid kepada mereka, menjadikan mereka sebagai hujah (dalil) antara mereka dengan Allah, dan membantah siapa saja yang menyelisihi keduanya. Namun pada saat yang sama, mayoritas muta’akhkhirin Asy’ariyah menyelisihi kedua imam tersebut dalam banyak bab akidah, padahal kedua imam memiliki nash-nash yang jelas tentangnya!

Hingga sebagian mereka berkata:

مَن كان في الفُروعِ على مَذهَبِ الشَّافِعيِّ، وَفي الأُصولِ على اعْتِقادِ الأشْعَريِّ، فهو مَعْلَمُ الطَّريقِ، وَهُوَ على الحَقِّ المُبِينِ

“Barangsiapa yang dalam masalah furu’ (cabang) mengikuti mazhab Asy-Syafi’i, dan dalam masalah ushul (pokok) mengikuti keyakinan Asy’ari, maka dia adalah penunjuk jalan, dan dia berada di atas kebenaran yang nyata”.[1]

Maka heranlah pada mereka! Mereka bertaqlid dalam furu’, tetapi menyelisihi dalam ushul!

Abu Al-Muzhaffar Manshur bin Muhammad bin Abdul Jabbar As-Sam’ani Al-Hanafi kemudian Asy-Syafi’i (w. 489 H) berkata setelah menyebutkan perkataan Asy-Syafi’i dalam mencela ilmu kalam dan menganjurkan As-Sunnah:

وَهُوَ الإِمَامُ الَّذِي لَا يُجَارَى، وَالفَحلُ الَّذِي لَا يُقَاوَمُ، فَلَوْ جَازَ الرُّجُوعُ إِلَيْهِ، وَطَلَبُ الدِّينِ مِنْ طَرِيقِهِ، لَكَانَ بِالتَّرْغِيبِ فِيهِ أَوْلَى مِنَ الزَّجْرِ عَنْهُ، وَبِالنَّدْبِ إِلَيْهِ أَوْلَى مِنَ النَّهْيِ عَنْهُ؛ فَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَنْصُرَ مَذْهَبَهُ فِي الفُرُوعِ، ثُمَّ يَرْغَبَ عَنْ طَرِيقَتِهِ فِي الأُصُولِ

“Dan dia (Asy-Syafi’i) adalah imam yang tak tertandingi, singa yang tak terkalahkan. Jika boleh merujuk kepadanya dan mengambil agama dari jalannya, maka tentulah menganjurkannya lebih utama daripada melarangnya, dan menyuruh kepadanya lebih utama daripada melarang darinya. Maka tidak pantas bagi seseorang untuk membela mazhabnya dalam furu’, kemudian berpaling dari jalannya dalam ushul!”.[2]

Dan Abu Al-Hasan Muhammad bin Abdul Malik Al-Karajji, salah seorang imam Syafi’iyyah, berkata dalam kitabnya “Al-Fushul fi Al-Ushul ‘an Al-A’immah Al-Fuhul Ilzaman li Dzawi Al-Bida’ wa Al-Fudhul” – di mana dia menyebutkan di dalamnya perkataan Asy-Syafi’i, Malik, Ats-Tsauri, Ahmad bin Hanbal, Al-Bukhari, Sufyan bin ‘Uyainah, Abdullah bin Al-Mubarak, Al-Auza’i, Al-Laits bin Sa’d, dan Ishaq bin Rahawaih dalam ushul As-Sunnah yang dengannya diketahui akidah mereka, dan menyebutkan dalam biografi mereka hal-hal yang menunjukkan kedudukan dan tempat mereka dalam Islam, dan menyebutkan bahwa dia membatasi periwayatan hanya dari mereka, bukan selain mereka, karena merekalah yang diikuti dan menjadi rujukan dari timur hingga barat dalam mazhab-mazhab mereka, dan karena mereka lebih memenuhi syarat-syarat kepeloporan dan keimaman dibanding selain mereka, serta lebih banyak menguasai sarana dan alat-alatnya; seperti kekuatan hafalan, wawasan dan kecerdasan, pengetahuan tentang Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, sanad, rijal (perawi), keadaan, bahasa Arab dan tempat-tempatnya, sejarah, nasikh-mansukh, naql (dalil tekstual) dan ‘aql (dalil rasional), shahih dan dha’if, dalam kejujuran, ketegaran, serta tampaknya amanah dan agama dibanding selain mereka – setelah menyebutkan semua ini, dia berkata:

إِنَّ فِي النَّقْلِ عَنْ هَؤُلَاءِ إِلْزَامًا لِلْحُجَّةِ عَلَى كُلِّ مَنْ يَنْتَحِلُ مَذْهَبَ إِمَامٍ يُخَالِفُهُ فِي العَقِيدَةِ؛ فَإِنَّ أَحَدَهُمَا لَا مَحَالَةَ يُضَلِّلُ صَاحِبَهُ أَوْ يُبَدِّعُهُ أَوْ يُكَفِّرُهُ، فَانْتِحَالُ مَذْهَبِهِ مَعَ مُخَالَفَتِهِ لَهُ فِي العَقِيدَةِ مُسْتَنْكَرٌ وَاللهِ شَرْعًا وَطَبْعًا، فَمَنْ قَالَ: أَنَا شَافِعِيُّ الشَّرْعِ أَشْعَرِيُّ الاعْتِقَادِ، قُلْنَا لَهُ: هَذَا مِنَ الأَضْدَادِ، لَا بَلْ مِنَ الارْتِدَادِ؛ إِذْ لَمْ يَكُنِ الشَّافِعِيُّ أَشْعَرِيَّ الاعْتِقَادِ. وَمَنْ قَالَ: أَنَا حَنْبَلِيٌّ فِي الفُرُوعِ مُعْتَزِلِيٌّ فِي الأُصُولِ، قُلْنَا: قَدْ ضَلَلْتَ إِذًا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ فِيمَا تَزْعُمُهُ؛ إِذْ لَمْ يَكُنْ أَحْمَدُ مُعْتَزِلِيَّ الدِّينِ وَالاجْتِهَادِ. قَالَ: وَقَدْ افْتُتِنَ أَيْضًا خَلْقٌ مِنَ المَالِكِيَّةِ بِمَذَاهِبِ الأَشْعَرِيَّةِ، وَهَذِهِ وَاللهِ سُبَّةٌ وَعَارٌ وَفَلْتَةٌ تَعُودُ بِالوَبَالِ وَالنَّكَالِ وَسُوءِ الدَّارِ عَلَى مُنْتَحِلِ مَذَاهِبِ هَؤُلَاءِ الأَئِمَّةِ الكِبَارِ

“Sesungguhnya meriwayatkan dari mereka ini merupakan pemberatan hujah terhadap setiap orang yang mengklaim mazhab seorang imam namun menyelisihinya dalam akidah. Karena pasti salah satu dari keduanya menyesatkan, membid’ahkan, atau mengkafirkan temannya. Maka klaim mengikuti mazhabnya sementara menyelisihinya dalam akidah adalah suatu kemungkaran – demi Allah – secara syar’i dan fitrah. Barangsiapa berkata, ‘Aku Syafi’i secara syariat (fikih) dan Asy’ari secara akidah,’ maka kita katakan padanya, ‘Ini termasuk hal-hal yang kontradiktif, bahkan termasuk kemurtadan; karena Asy-Syafi’i bukanlah seorang yang berakidah Asy’ari. Dan barangsiapa berkata, ‘Aku Hanbali dalam furu’ dan Mu’tazili dalam ushul,’ maka kita katakan, ‘Sungguh kamu telah tersesat dari jalan yang lurus dalam apa yang kamu klaim; karena Ahmad bukanlah seorang Mu’tazili dalam agama dan ijtihadnya.'” Dia (Al-Karajji) berkata: “Dan banyak pula dari kalangan Malikiyyah yang terfitnah dengan mazhab-mazhab Asy’ariyah. Ini – demi Allah – adalah aib, cela, dan kesalahan yang akan kembali dengan bencana, azab, dan tempat kembali yang buruk bagi orang yang mengklaim mazhab para imam besar ini”.[3]

Dan Ibnu Taimiyah berkata setelah suatu pembahasan:

…وَاعْتُبِرَ ذَلِكَ بِأُمُورٍ:

أَحَدُهَا: أَنَّ كَلَامَ مَالِكٍ فِي ذَمِّ المُبْتَدِعَةِ وَهَجْرِهِمْ وَعُقُوبَتِهِمْ كَثِيرٌ، وَمِنْ أَعْظَمِهِمْ عِنْدَهُ الجَهْمِيَّةُ الَّذِينَ يَقُولُونَ: إِنَّ اللهَ لَيْسَ فَوْقَ العَرْشِ، وَإِنَّ اللهَ لَمْ يَتَكَلَّمْ بِالقُرْآنِ كُلِّهِ، وَإِنَّهُ لَا يُرَى، كَمَا وَرَدَتْ بِهِ السُّنَّةُ، وَيَنْفُونَ نَحْوَ ذَلِكَ مِنَ الصِّفَاتِ! ثُمَّ إِنَّهُ كَثِيرٌ فِي المُتَأَخِّرِينَ مِنْ أَصْحَابِهِ مِنْ يُنْكِرُ هَذِهِ الأُمُورَ كَمَا يُنْكِرُهَا فُرُوعُ الجَهْمِيَّةِ، وَيَجْعَلُ ذَلِكَ هُوَ السُّنَّةَ، وَيَجْعَلُ القَوْلَ الَّذِي يُخَالِفُهَا -وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَسَائِرِ أَئِمَّةِ السُّنَّةِ- هُوَ البِدْعَةَ، ثُمَّ إِنَّهُ مَعَ ذَلِكَ يَعْتَقِدُ فِي أَهْلِ البِدْعَةِ مَا قَالَهُ مَالِكٌ! فَبَدَّلَ هَؤُلَاءِ الدِّينَ، فَصَارُوا يَطْعَنُونَ فِي أَهْلِ السُّنَّةِ!

الثَّانِي: أَنَّ الشَّافِعِيَّ مِنْ أَعْظَمِ النَّاسِ ذَمًّا لِأَهْلِ الكَلَامِ وَلِأَهْلِ التَّغْيِيرِ، وَنَهْيًا عَنْ ذَلِكَ، وَجَعْلًا لَهُ مِنَ البِدْعَةِ الخَارِجَةِ عَنِ السُّنَّةِ. ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْ أَصْحَابِهِ عَكَسُوا الأَمْرَ حَتَّى جَعَلُوا الكَلَامَ الَّذِي ذَمَّهُ الشَّافِعِيُّ هُوَ السُّنَّةَ وَأُصُولَ الدِّينِ الَّذِي يَجِبُ اعْتِقَادُهُ وَمُوَالَاةُ أَهْلِهِ، وَجَعَلُوا مُوجِبَ الكِتَابِ وَالسُّنَّةِ الَّذِي مَدَحَهُ الشَّافِعِيُّ هُوَ البِدْعَةَ الَّتِي يُعَاقَبُ أَهْلُهَا

“… Dan hal itu dapat dipertimbangkan dengan beberapa perkara:

Pertama: Perkataan Malik dalam mencela ahli bid’ah, memboikot, dan menghukum mereka sangat banyak. Dan yang paling besar menurutnya adalah Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Allah tidak di atas Arsy, bahwa Allah tidak berfirman dengan Al-Qur’an seluruhnya, bahwa Allah tidak akan dilihat sebagaimana ditetapkan oleh As-Sunnah, dan mereka menolak semacam itu dari sifat-sifat Allah! Kemudian, sungguh banyak di kalangan muta’akhkhirin dari pengikutnya yang mengingkari perkara-perkara ini sebagaimana diingkari oleh cabang-cabang Jahmiyyah, menjadikannya sebagai As-Sunnah, dan menjadikan perkataan yang menyelisihinya – yaitu perkataan Malik dan seluruh imam Ahlus Sunnah – sebagai bid’ah. Namun pada saat yang sama, mereka meyakini tentang ahli bid’ah sebagaimana yang dikatakan Malik! Maka mereka ini telah mengganti agama, sehingga mereka mencela Ahlus Sunnah!

Kedua: Asy-Syafi’i termasuk orang yang paling keras dalam mencela ahli kalam dan ahli takwil (perubahan makna), serta melarang dari hal itu, dan menjadikannya termasuk bid’ah yang keluar dari As-Sunnah. Kemudian, banyak dari pengikutnya justru membalikkan perkara, sehingga menjadikan ilmu kalam yang dicela oleh Asy-Syafi’i sebagai As-Sunnah dan ushuluddin yang wajib diyakini dan wajib loyal kepada penganutnya, dan menjadikan tuntutan Al-Kitab dan As-Sunnah yang dipuji oleh Asy-Syafi’i sebagai bid’ah yang pelakunya pantas dihukum”.[4]

Dan apabila Asy’ariyah muta’akhkhirin menyebutkan suatu perkataan dalam bab-bab akidah dan menisbatkannya kepada Al-Ashhab (para pengikut mazhab), yang mereka maksud hanyalah orang-orang yang terjun ke dalam bidang yang mereka terjuni. Adapun imam mazhab dan pengikut seniornya, mereka bersih dari apa yang mereka riwayatkan.

Ibnu Taimiyah berkata:

وَلَمَّا كَانَ الكَلَامُ فِي هَذِهِ الأَبْوَابِ المُبْتَدَعَةِ مَأْخُوذًا فِي الأَصْلِ عَنِ المُعْتَزِلَةِ وَالجَهْمِيَّةِ وَنَحْوِهِمْ، وَقَدْ تَكَلَّمَ هَؤُلَاءِ فِي أَوَّلِ الوَاجِبَاتِ: هَلْ هُوَ النَّظَرُ، أَوِ القَصْدُ، أَوِ الشَّكُّ، أَوِ المَعْرِفَةُ؟ صَارَ كَثِيرٌ مِنَ المُنْتَسِبِينَ إِلَى السُّنَّةِ المُخَالِفِينَ لِلْمُعْتَزِلَةِ فِي جُمَلِ أُصُولِهِمْ يُوَافِقُونَهُمْ عَلَى ذَلِكَ. ثُمَّ الوَاحِدُ مِنْ هَؤُلَاءِ إِذَا انْتَسَبَ إِلَى إِمَامٍ مِنْ أَئِمَّةِ العِلْمِ، كَمَالِكٍ، وَأَبِي حَنِيفَةَ، وَالشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ، وَصَنَّفَ كِتَابًا فِي هَذَا البَابِ، يَقُولُ فِيهِ: «قَالَ أَصْحَابُنَا» وَ«اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا»، فَإِنَّمَا يَعْنِي بِذَلِكَ أَصْحَابَهُ الخَائِضِينَ فِي هَذَا الكَلَامِ، وَلَيْسُوا مِنْ هَذَا الوَجْهِ مِنْ أَصْحَابِ ذَلِكَ الإِمَامِ؛ فَإِنَّ أَصْحَابَهُ الَّذِينَ شَارَكُوهُ فِي مَذْهَبِ ذَلِكَ الإِمَامِ إِنَّمَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ أَصْحَابِهِ المُشَارِكِينَ لَهُ فِي ذَلِكَ الكَلَامِ عُمُومٌ وَخُصُوصٌ، فَقَدْ يَكُونُ الرَّجُلُ مِنْ هَؤُلَاءِ دُونَ هَؤُلَاءِ، وَبِالعَكْسِ، وَقَدْ يَجْتَمِعُ فِيهِ الوَصْفَانِ. وَهَذَا مَوْجُودٌ كَثِيرًا فِي أَتْبَاعِ جَمِيعِ الأَئِمَّةِ؛ فَتَجِدُ الوَاحِدَ مِنْ أَصْحَابِ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ يَقُولُ: اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي أَوَّلِ الوَاجِبَاتِ، وَنَحْوَ ذَلِكَ، وَلَا يَصِحُّ كَلَامُهُ إِلَّا عَلَى هَذَا الوَجْهِ

“Ketika pembahasan dalam bab-bab bid’ah ini pada asalnya diambil dari Mu’tazilah, Jahmiyah, dan semisal mereka – dan mereka ini telah membahas tentang ‘awwaliyat al-wajibat’ (kewajiban pertama yang diperintahkan pada mukallaf): apakah adalah nazhar (berpikir), atau qashd (niat), atau syak (keraguan), atau ma’rifah (pengetahuan)? – maka banyak dari orang-orang yang mengklaim Ahlus Sunnah dan menyelisihi Mu’tazilah dalam garis besar ushul mereka, ternyata menyetujui mereka dalam hal ini. Kemudian, seseorang dari mereka jika mengaku mengikuti seorang imam dari imam-imam ilmu, seperti Malik, Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Ahmad, lalu menulis kitab dalam bab ini, dan berkata di dalamnya, ‘Berkata para ashhab kami’ dan ‘para ashhab kami berbeda pendapat’, maka yang dia maksud adalah ashhab-nya sendiri yang terjun dalam ilmu kalam ini. Mereka bukanlah – dari sisi ini – dari ashhab imam tersebut. Karena ashhab imam yang mengikuti mazhab imam tersebut, hubungan mereka dengan ashhab orang ini yang bersamanya dalam ilmu kalam adalah hubungan umum dan khusus. Seseorang bisa termasuk yang ini tetapi bukan yang itu, atau sebaliknya, atau bisa mengumpulkan kedua sifat. Hal ini banyak ditemukan pada pengikut semua imam. Kamu akan temukan seorang dari pengikut Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad berkata, ‘Para ashhab kami berbeda pendapat tentang awal kewajiban,’ dan semisalnya. Perkataannya hanya benar dengan makna ini”.[5]

Berikut ini kami sampaikan sebagian perkataan dua imam, Malik dan Asy-Syafi’i, dalam bab-bab akidah, yang di dalamnya Asy’ariyah telah menyelisihi kedua imam tersebut!

Ketidaksesuaian Asy’ariyah Malikiyah dengan Imam Mereka, Malik bin Anas

Pertama: Perkataan Imam Malik dalam Mencela Ilmu Kalam yang Digeluti dan Dipuji oleh Asy’ariyah

1. Dari Muhammad bin ‘Aqil bin Al-Azhar Al-Faqih, dia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى المُزَنِيِّ، فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ مِنَ الكَلَامِ، فَقَالَ: إِنِّي أَكْرَهُ هَذَا، بَلْ أَنْهَى عَنْهُ، كَمَا نَهَى عَنْهُ الشَّافِعِيُّ، وَلَقَدْ سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ يَقُولُ: سُئِلَ مَالِكٌ عَنِ الكَلَامِ وَالتَّوْحِيدِ، فَقَالَ مَالِكٌ: مُحَالٌ أَنْ يُظَنَّ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ عَلَّمَ أُمَّتَهُ الاسْتِنْجَاءَ وَلَمْ يُعَلِّمْهُمُ التَّوْحِيدَ، وَالتَّوْحِيدُ مَا قَالَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، فَإِذَا قَالُوهَا عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ»، فَمَا عُصِمَ بِهِ الدَّمُ وَالمَالُ فَهُوَ حَقِيقَةُ التَّوْحِيدِ

“Seorang laki-laki datang kepada Al-Muzani, lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu dari ilmu kalam. Al-Muzani berkata: ‘Aku membenci ini, bahkan aku melarangnya sebagaimana Asy-Syafi’i melarangnya. Sungguh aku mendengar Asy-Syafi’i berkata: Malik pernah ditanya tentang ilmu kalam dan tauhid. Malik berkata: ‘Mustahil diduga bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari umatnya istinja’ (bersuci) tetapi tidak mengajari mereka tauhid. Dan tauhid adalah apa yang dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan Laa ilaaha illallah. Jika mereka telah mengatakannya, maka darah dan harta mereka terlindungi dariku kecuali dengan haknya, dan hisab mereka terserah kepada Allah.[6] Maka apa yang dengannya darah dan harta menjadi terlindungi, itulah hakikat tauhid”.[7]

2. Dari Abdurrahman bin Mahdi, dia berkata:

دَخَلْتُ عَلَى مَالِكٍ وَعِنْدَهُ رَجُلٌ يَسْأَلُهُ عَنِ القُرْآنِ، فَقَالَ: لَعَلَّكَ مِنْ أَصْحَابِ عَمْرِو بْنِ عُبَيْدٍ! لَعَنَ اللهُ عَمْرًا؛ فَإِنَّهُ ابْتَدَعَ هَذِهِ البِدَعَ مِنَ الكَلَامِ، وَلَوْ كَانَ الكَلَامُ عِلْمًا لَتَكَلَّمَ فِيهِ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ كَمَا تَكَلَّمُوا فِي الأَحْكَامِ وَالشَّرَائِعِ، وَلَكِنَّهُ بَاطِلٌ يَدُلُّ عَلَى بَاطِلٍ

“Aku masuk menemui Malik, dan di sisinya ada seorang laki-laki yang bertanya kepadanya tentang Al-Qur’an. Malik berkata: ‘Barangkali kamu termasuk pengikut ‘Amr bin ‘Ubaid! Semoga Allah melaknat ‘Amr. Sungguh dia yang memulai bid’ah-bid’ah ini dari ilmu kalam. Seandainya ilmu kalam itu ilmu, niscaya para sahabat dan tabi’in akan membicarakannya sebagaimana mereka membicarakan hukum-hukum dan syariat. Akan tetapi, itu adalah kebatilan yang menunjukkan kepada kebatilan!’”.[8]

3. Dari Ishaq bin ‘Isa, dari Malik bin Anas, dia berkata:

مَنْ طَلَبَ الدِّينَ بِالكَلَامِ تَزَنْدَقَ، وَمَنْ طَلَبَ المَالَ بِالكِيمِيَاءِ أَفْلَسَ، وَمَنْ طَلَبَ غَرِيبَ الحَدِيثِ كَذَبَ

“Barangsiapa mencari agama dengan ilmu kalam, dia akan menjadi zindiq. Barangsiapa mencari harta dengan alkimia, dia akan bangkrut. Dan barangsiapa mencari hadits gharib (yang asing/aneh), dia akan berdusta.”[9]

4. Abu Thalib Al-Makki berkata:

 كَانَ مَالِكٌ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْ مَذَاهِبِ المُتَكَلِّمِينَ، وَأَشَدَّهُمْ بُغْضًا لِلعِرَاقِيِّينَ، وَأَلْزَمَهُمْ لِسُنَّةِ السَّالِفِينَ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ

“Malik adalah orang yang paling jauh dari mazhab-mazhab mutakallimin, orang yang paling membenci orang-orang Irak[10] (dalam hal pendekatan ilmu kalam), dan orang yang paling berpegang pada sunnah salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in.”[11]

Kedua: Perkataan Imam Malik dalam Mencela Takwil dan Memalingkan Nash-Nash dari Zhahirnya, Sedangkan Asy’ariyah Mewajibkannya

1. Ibnu Nafi’ dan Asyhab berkata – dan salah seorang dari keduanya menambahi yang lain –:

قُلْتُ يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ: {وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ  إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ} يَنْظُرُونَ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: نَعَم، بِأَعْيُنِهِمْ هَاتَيْنِ. فَقُلْتُ لَهُ: فَإِنَّ قَوْمًا يَقُولُونَ: لَا يُنْظَرُ إِلَى اللهِ، إِنَّ {نَاظِرَةٌ} بِمَعْنَى مُنْتَظِرَةٍ إِلَى الثَّوَابِ! قَالَ: كَذَبُوا! بَلْ يُنْظَرُ إِلَى اللهِ، أَمَا سَمِعْتَ قَوْلَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: {رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ}؟ أَفَتَرَى مُوسَى سَأَلَ رَبَّهُ مُحَالًا؟ فَقَالَ اللهُ: {لَنْ تَرَانِي} فِي الدُّنْيَا؛ لِأَنَّهَا دَارُ فَنَاءٍ، وَلَا يُنْظَرُ مَا يَبْقَى بِمَا يَفْنَى، فَإِذَا صَارُوا إِلَى دَارِ البَقَاءِ نَظَرُوا بِمَا يَبْقَى إِلَى مَا يَبْقَى. وَقَالَ اللهُ: {كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ} [المطففين: 15]

 “Aku berkata, ‘Wahai Abu Abdillah, (tentang ayat) {وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ  إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ} (Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnya mereka melihat). (QS. Al-Qiyamah: 22-23). Apakah mereka melihat Allah?’ Malik berkata: ‘Ya, dengan kedua mata mereka ini.’ Lalu aku bertanya kepadanya, ‘Sesungguhnya suatu kaum berkata: ‘Tidak akan dilihat Allah. Sesungguhnya (kata) nadzirah bermakna menunggu pahala.’ Malik berkata: ‘Mereka dusta! Bahkan (mukminin) akan melihat Allah. Tidakkah kamu mendengar perkataan Musa ‘alaihis salam: {رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ} (Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau). (QS. Al-A’raf: 143). Apakah kamu mengira Musa meminta kepada Rabbnya sesuatu yang mustahil?’ Lalu Allah berfirman: {لَنْ تَرَانِي} (Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku). (QS. Al-A’raf: 143) di dunia; karena dunia adalah negeri fana. Tidaklah dilihat yang kekal dengan yang fana. Jika mereka telah pindah ke negeri keabadian, mereka melihat dengan yang kekal kepada yang kekal.’ Dan Allah berfirman: {كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ} (Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka). (QS. Al-Muthaffifin: 15)).'”[12]

2. Dari Al-Walid bin Muslim, dia berkata:

سَأَلْتُ الأَوْزَاعِيَّ وَسُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ وَمَالِكَ بْنَ أَنَسٍ وَاللَّيْثَ بْنَ سَعْدٍ عَنْ هَذِهِ الأَحَادِيثِ فِي الصِّفَاتِ وَالرُّؤْيَةِ، فَقَالُوا: أَمِرُّوهَا كَمَا جَاءَتْ بِلَا كَيْفٍ

“Aku bertanya kepada Al-Auza’i, Sufyan Ats-Tsauri, Malik bin Anas, dan Al-Laits bin Sa’d tentang hadits-hadits ini dalam masalah sifat-sifat (Allah) dan ru’yah (melihat Allah). Mereka berkata: ‘أَمِرُّوهَا كَمَا جَاءَتْ بِلَا كَيْفٍ (Biarkanlah ia sebagaimana datangnya, tanpa (menanyakan) kaifiyah (bagaimana).”[13]

3. At-Tirmidzi berkata setelah meriwayatkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ الصَّدَقَةَ وَيَأْخُذُهَا بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا لِأَحَدِكُمْ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ مُهْرَهُ…

“Sesungguhnya Allah menerima sedekah dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya, lalu mengembangkannya bagi salah seorang dari kalian sebagaimana salah seorang dari kalian mengembangkan anak kudanya….” [14]

At-Tirmidzi berkata:

قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ فِي هَذَا الحَدِيثِ وَمَا يُشْبِهُهُ مِنَ الرِّوَايَاتِ مِنَ الصِّفَاتِ، وَنُزُولِ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، قَالُوا: قَدْ تَثْبُتُ الرِّوَايَاتُ فِي هَذَا، وَيُؤْمَنُ بِهَا وَلَا يُتَوَهَّمُ، وَلَا يُقَالُ: كَيْفَ؟ هَكَذَا رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ، وَسُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ، وَعَبْدِ اللهِ بْنِ المُبَارَكِ أَنَّهُمْ قَالُوا فِي هَذِهِ الأَحَادِيثِ: أَمِرُّوهَا بِلَا كَيْفٍ، وَهَكَذَا قَوْلُ أَهْلِ العِلْمِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ

“Banyak ulama berkata tentang hadits ini dan riwayat-riwayat semisalnya tentang sifat-sifat (Allah), dan tentang turunnya Rabb Tabaraka wa Ta’ala setiap malam ke langit dunia. Mereka berkata: ‘Riwayat-riwayat tentang hal ini telah tetap, diimani, tidak direka-reka, dan tidak dikatakan ‘bagaimana?’. Demikianlah diriwayatkan dari Malik, Sufyan bin ‘Uyainah, dan Abdullah bin Al-Mubarak bahwa mereka berkata tentang hadits-hadits ini: ‘Biarkanlah ia sebagaimana datangnya tanpa (menanyakan) kaifiyah.’ Dan demikianlah perkataan ahli ilmu dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah.).”[15]

Ketiga: Perkataan Imam Malik dalam Menetapkan Sifat-Sifat (Allah), Sedangkan Asy’ariyah Menakwilkannya

1. Dari Ja’far bin Abdullah, dia berkata:

كُنَّا عِنْدَ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ فَجَاءَهُ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ، {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} [طه: 5] كَيْفَ اسْتَوَى؟ فَقَالَ: فَمَا رَأَيْتُ مَالِكًا وَجَدَ مِنْ شَيْءٍ مَا وَجَدَ مِنْ مَسْأَلَتِه! فَنَظَرَ إِلَى الأَرْضِ وَجَعَلَ يَنْكُتُ بِعُودٍ فِي يَدِهِ حَتَّى عَلَاهُ الرُّحَضَاءُ -يَعْنِي العَرَقَ- ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَرَمَى بِالعُودِ، وَقَالَ: الكَيْفُ مِنْهُ غَيْرُ مَعْقُولٍ، وَالاسْتِوَاءُ مِنْهُ غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، وَأَظُنُّكَ صَاحِبَ بِدْعَةٍ، وَأَمَرَ بِهِ فَأٌخْرِجَ

“Kami berada di sisi Malik bin Anas, lalu datang seorang laki-laki dan berkata, ‘Wahai Abu Abdillah, (tentang ayat) {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} (Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) bersemayam di atas ‘Arsy). (QS. Thaha: 5). Bagaimana Dia bersemayam?’ Maka aku tidak pernah melihat Malik marah terhadap sesuatu sebagaimana marahnya terhadap pertanyaan orang itu! Dia menunduk ke tanah dan mulai mengetuk dengan tongkat di tangannya hingga keringatnya bercucuran. Kemudian dia mengangkat kepalanya, melemparkan tongkat, dan berkata: ‘الكَيْفُ مِنْهُ غَيْرُ مَعْقُولٍ، وَالاسْتِوَاءُ مِنْهُ غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ (Kaifiyah (bagaimana) darinya tidak dapat dijangkau (akal), al-istiwa’ (bersemayam) darinya bukanlah sesuatu yang tidak diketahui, beriman dengannya adalah wajib, bertanya tentangnya adalah bid’ah), dan aku kira kamu adalah ahli bid’ah.’ Lalu dia memerintahkan agar orang itu dikeluarkan.”[16]

2. Dari Abdullah bin Nafi’, dia berkata: Malik bin Anas rahimahullah berkata:

اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي السَّمَاءِ، وَعِلْمُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ، لَا يَخْلُو مِنْ عِلْمِهِ مَكَانٌ

“Allah Azza wa Jalla berada di atas langit, dan ilmu-Nya di setiap tempat; tidak ada tempat yang kosong dari ilmu-Nya.”[17]

Catatan: Asy’ariyah tidak menetapkan ‘uluw (ketinggian) bagi Allah dan menolak bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit.”

3. Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ sejumlah hadits tentang sifat-sifat (Allah). Di antaranya adalah yang dia riwayatkan dari Hilal bin Usamah, dari ‘Atha` bin Yasar, dari ‘Umar bin Al-Hakam, bahwa dia berkata:

أَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ جَارِيَةً لِي كَانَتْ تَرْعَى غَنَمًا لِي، فَجِئْتُهَا وَقَدْ فَقَدَتْ شَاةً مِنَ الغَنَمِ، فَسَأَلْتُهَا عَنْهَا فَقَالَتْ: أَكَلَهَا الذِّئْبُ! فَأَسِفْتُ عَلَيْهَا، وَكُنْتُ مِنْ بَنِي آدَمَ فَلَطَمْتُ وَجْهَهَا وَعَلَيَّ رَقَبَةٌ، أَفَأُعْتِقُهَا؟ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيْنَ اللهُ؟ فَقَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. فَقَالَ: مَنْ أَنَا؟ فَقَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَعْتِقْهَا

“Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya seorang budak perempuanku menggembalakan kambing-kambingku. Aku mendatanginya dan ternyata seekor kambing hilang. Aku bertanya kepadanya tentangnya, dia menjawab, ‘Dimakan serigala!’ Aku pun marah kepadanya – dan aku termasuk anak Adam – lalu aku menampar wajahnya. Padahal aku wajib membebaskan seorang budak. Apakah aku harus memerdekakannya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, ‘Di mana Allah?’ Budak perempuan itu menjawab, ‘Di atas langit.’ Beliau bertanya, ‘Siapakah aku?’ Dia menjawab, ‘Engkau adalah Rasul Allah.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Bebaskanlah dia.”[18]

4. Dia meriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ dari Ibnu Syihab, dari Abu Abdullah Al-Agharr, dan dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan? Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku ampuni?.”[19]

Ibnu Abdil Barr Al-Maliki berkata dalam syarah Al-Muwaththa’:

هَذَا حَدِيثٌ ثَابِتٌ مِنْ جِهَةِ النَّقْلِ صَحِيحُ الإِسْنَادِ لَا يَخْتَلِفُ أَهْلُ الحَدِيثِ فِي صِحَّتِهِ… وَهُوَ حَدِيثٌ مَنْقُولٌ مِنْ طُرُقٍ مُتَوَاتِرَةٍ وَوُجُوهٍ كَثِيرَةٍ مِنْ أَخْبَارِ العُدُولِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ… وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي السَّمَاءِ عَلَى العَرْشِ مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَوَاتٍ، كَمَا قَالَتِ الجَمَاعَةُ، وَهُوَ مِنْ حُجَّتِهِمْ عَلَى المُعْتَزِلَةِ وَالجَهْمِيَّةِ فِي قَوْلِهِمْ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَلَيْسَ عَلَى العَرْشِ!

“Ini adalah hadits yang tetap dari sisi periwayatan, sanadnya shahih, ahli hadits tidak berselisih tentang keshahihannya… dan ia adalah hadits yang diriwayatkan melalui jalur-jalur mutawatir dan banyak cara dari berita-berita orang-orang yang adil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam… Di dalamnya terdapat dalil bahwa Allah Azza wa Jalla berada di atas langit, di atas ‘Arsy, dari atas tujuh langit, sebagaimana dikatakan jama’ah (Ahlus Sunnah). Ia adalah hujah mereka terhadap Mu’tazilah dan Jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah Azza wa Jalla berada di setiap tempat dan tidak di atas ‘Arsy!.”[20]

Sampai beliau berkata:

أَهْلُ السُّنَّةِ مُجْمِعُونَ عَلَى الإِقْرَارِ بِالصِّفَاتِ الوَارِدَةِ كُلِّهَا فِي القُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، وَالإِيمَانِ بِهَا، وَحَمْلِهَا عَلَى الحَقِيقَةِ لَا عَلَى المَجَازِ، إِلَّا أَنَّهُمْ لَا يُكَيَّفُونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ، وَلَا يَحُدُّونَ فِيهِ صِفَةً مَحْصُورَةً، وَأَمَّا أَهْلُ البِدَعِ وَالجَهْمِيَّةُ وَالمُعْتَزِلَةُ كُلُّهَا وَالخَوَارِجُ فَكُلُّهُمْ يُنْكِرُهَا، وَلَا يَحْمِلُ شَيْئًا مِنْهَا عَلَى الحَقِيقَةِ، وَيَزْعُمُونَ أَنَّ مَنْ أَقَرَّ بِهَا مُشَبِّهٌ، وَهُمْ عِنْدَ مَنْ أَثْبَتَهَا نَافُونَ لِلْمَعْبُودِ، وَالحَقُّ فِيمَا قَالَهُ القَائِلُونَ بِمَا نَطَقَ بِهِ كِتَابُ اللهِ وَسُنَّةُ رَسُولِهِ، وَهُمْ أَئِمَّةُ الجَمَاعَةِ، وَالحَمْدُ للهِ

“Ahlus Sunnah sepakat untuk mengakui semua sifat-sifat yang datang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, mengimaninya, dan membawanya pada makna hakikatnya, bukan majaz (kiasan), hanya saja mereka tidak menanyakan kaifiyah (bagaimana) sama sekali, dan tidak membatasi padanya sifat yang terbatas. Adapun ahli bid’ah, Jahmiyah, seluruh Mu’tazilah, dan Khawarij, mereka semua mengingkarinya dan tidak membawa sesuatu pun darinya pada makna hakikat. Mereka mengklaim bahwa orang yang mengakuinya adalah musyabbih (penyerupa). Sedangkan menurut orang yang menetapkannya, mereka adalah orang-orang yang menolak (sifat-sifat) Tuhan yang disembah. Kebenaran ada pada apa yang dikatakan oleh orang-orang yang berkata sesuai dengan apa yang diucapkan oleh Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, dan mereka adalah para imam jama’ah. Segala puji bagi Allah.”[21]

5. Dari Abu Abdullah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, dia berkata:

القَوْلُ فِي السُّنَّةِ الَّتِي أَنَا عَلَيْهَا، وَرَأَيْتُ أَصْحَابِي عَلَيْهَا أَهْلَ الحَدِيثِ الَّذِينَ رَأَيْتُهُمْ فَأَخَذْتُ عَنْهُمْ؛ مِثْلُ سُفْيَانَ، وَمَالِكٍ، وَغَيْرِهِمَا: الإِقْرَارُ بِشَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَأَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِي سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ، وَأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ…

 “Perkataan tentang As-Sunnah yang aku berada di atasnya, dan aku melihat para ashhab kami – ahli hadits yang aku lihat dan aku ambil dari mereka seperti Sufyan, Malik, dan selain mereka – berada di atasnya adalah: Pengakuan atas syahadat bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, dan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya di langit-Nya, Dia dekat dengan makhluk-Nya sebagaimana yang Dia kehendaki, dan bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia sebagaimana yang Dia kehendaki…” dan dia menyebutkan akidah lainnya.[22]

6. At-Tirmidzi berkata setelah meriwayatkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَمِينُ الرَّحْمَنِ مَلْأَى سَحَّاءُ لَا يَغِيضُهَا اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ. قَالَ: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ؟! فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَمِينِهِ، وَعَرْشُهُ عَلَى المَاءِ، وَبِيَدِهِ الأُخْرَى المِيزَانُ يَرْفَعُ وَيَخْفِضُ

“Tangan kanan Ar-Rahman penuh, Dia selalu memberi tanpa berkurang sedikit pun oleh siang dan malam. Tahukah kalian apa yang telah Dia infakkan sejak menciptakan langit dan bumi? Sesungguhnya itu tidak mengurangi apa yang ada di tangan kanan-Nya. ‘Arsy-Nya di atas air, dan di tangan-Nya yang lain timbangan, Dia mengangkat dan menurunkannya.”[23]

At-Tirmidzi berkata:

هَذَا حَدِيثٌ قَدْ رَوَتْهُ الأَئِمَّةُ، نُؤْمِنُ بِهِ كَمَا جَاءَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُفَسَّرَ أَوْ يُتَوَهَّمَ، هَكَذَا قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الأَئِمَّةِ؛ الثَّوْرِيُّ، وَمَالِكُ بْنُ أَنَسٍ، وَابْنُ عُيَيْنَةَ، وَابْنُ المُبَارَكِ: إِنَّهُ تُرْوَى هَذِهِ الأَشْيَاءُ وَيُؤْمَنُ بِهَا وَلَا يُقَالُ: كَيْفَ

 “Ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh para imam. Kami mengimaninya sebagaimana datangnya, tanpa ditafsirkan atau direka-reka. Demikianlah yang dikatakan banyak imam: Ats-Tsauri, Malik bin Anas, Ibnu ‘Uyainah, dan Ibnu Al-Mubarak: ‘Hal-hal ini diriwayatkan dan diimani, dan tidak dikatakan ‘bagaimana?.”[24]

7. Dari Zuhair bin ‘Abbad, dia berkata:

كُلُّ مَنْ أَدْرَكْتُ مِنَ المَشَايِخِ: مَالِكٌ، وَسُفْيَانُ، وَفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ، وَعِيسَى، وَابْنُ المُبَارَكِ، وَوَكِيعٌ، كَانُوا يَقُولُونَ: النُّزُولُ حَقٌّ

“Semua syaikh yang aku temui: Malik, Sufyan, Fudhail bin ‘Iyadh, ‘Isa, Ibnu Al-Mubarak, Waki’, mereka berkata: ‘An-Nuzul (turunnya Allah) adalah hak (benar).”[25]

8. Dari Abdullah bin Nafi’, dia berkata: Malik bin Anas berkata:

كَلَّمَ اللهُ مُوسَى بْنَ عِمْرَانَ

“Allah berbicara kepada Musa bin ‘Imran.”[26]

9. Dari Ibnu Al-Qasim, dia berkata: Abu As-Samh bertanya kepada Malik, “Wahai Abu Abdillah, apakah Allah akan dilihat pada hari kiamat?” Malik menjawab,

 “نَعَمْ؛ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ  إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ} [القيامة: 22-23]، وَقَالَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ:

{كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ} [المطففين: 15]

 “Ya. Allah Azza wa Jalla berfirman: {وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ  إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ} (Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnya mereka melihat). (QS. Al-Qiyamah: 22-23). Dan Dia berfirman kepada kaum yang lain: {كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ} (Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka”. (QS. Al-Muthaffifin: 15)[27]

Catatan: Asy’ariyah mengingkari ru’yah (dilihatnya) Allah oleh orang-orang beriman pada hari kiamat.

10. Malik berkata:

لَوْ لَمْ يَرَ المُؤْمِنُونَ رَبَّهُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ لَمْ يُعَيِّرِ اللهُ الكُفَّارَ بِالحِجَابِ، فَقَالَ: {كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ} [المطففين: 15]

 “Seandainya orang-orang beriman tidak melihat Rabb mereka pada hari kiamat, niscaya Allah tidak akan mencela orang-orang kafir dengan penghalangan. Dia berfirman: ‘Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15).[28]

11. Dari Abdullah bin Wahb, dia berkata: Malik bin Anas berkata:

النَّاسُ يَنْظُرُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ القِيَامَةِ بِأَعْيُنِهِمْ

“Manusia akan melihat Allah Azza wa Jalla pada hari kiamat dengan mata mereka”.[29]

Keempat: Perkataan Imam Malik bahwa Iman adalah Ucapan dan Perbuatan, Sedangkan Asy’ariyah Berkata Iman Hanyalah Pembenaran (Tashdiq) dalam Hati

1. Dari Abdullah bin Nafi’, dia berkata:

كَانَ مَالِكٌ يَقُولُ: الإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، يَزِيدُ وَيَنْقُصُ

 “Malik berkata: ‘Iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.”[30]

2. Ibnu Al-Qasim berkata: “Kami bertanya kepada Malik, ‘Apakah iman itu ucapan dan perbuatan, atau ucapan tanpa perbuatan?’ Malik berkata:

 ‘بَلْ قَوْلٌ وَعَمَلٌ

“Bahkan ucapan dan perbuatan.”[31]

3. Dari Abdurrazzaq, dia berkata:

سَمِعْتُ مَعْمَرًا، وَسُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ، وَمَالِكَ بْنَ أَنَسٍ، وَابْنَ جُرَيْجٍ، وَسُفْيَانَ بْنَ عُيَيْنَةَ يَقُولُونَ: الإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، يَزِيدُ وَيَنْقُصُ

“Aku mendengar Ma’mar, Sufyan Ats-Tsauri, Malik bin Anas, Ibnu Juraij, dan Sufyan bin ‘Uyainah berkata: ‘Iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.”[32]

4. Dari Abu Dawud As-Sijistani, dia berkata:

سَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ: الإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، يَزِيدُ وَيَنْقُصُ. قَالَ أَحْمَدُ: وَبَلَغَنِي أَنَّ مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ، وَابْنَ جُرَيْجٍ، وَفُضَيْلَ بْنَ عِيَاضٍ، قَالُوا: الإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ

“Aku mendengar Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: ‘Iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.’ Ahmad berkata: ‘Dan telah sampai kepadaku bahwa Malik bin Anas, Ibnu Juraij, dan Fudhail bin ‘Iyad berkata: Iman adalah ucapan dan perbuatan.”[33]

5. Malik berkata:

سَمَّى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ العَمَلَ إِيمَانًا، وَقَالَ: {وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ} [البقرة: 143]، يُرِيدُ: صَلَاتَكُمْ إِلَى بَيْتِ المَقْدِسِ

“Allah Azza wa Jalla menamakan perbuatan sebagai iman. Dia berfirman: {وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ} (Dan Allah sekali-kali tidak akan menyia-nyiakan imanmu). (QS. Al-Baqarah: 143). Maksudnya: shalatmu (dahulu) menghadap Baitul Maqdis.).”[34]

6. Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Salam berkata dalam kitab Al-Iman:

بَابُ الزِّيَادَةِ فِي الإِيمَانِ وَالانْتِقَاصِ مِنْهُ… وَبِهَذَا القَوْلِ كَانَ يَأْخُذُ سُفْيَانُ وَالأَوْزَاعِيُّ وَمَالِكُ بْنُ أَنَسٍ، يَرَوْنَ أَعْمَالَ البِرِّ جَمِيعًا مِنَ الازْدِيَادِ فِي الإِسْلَامِ؛ لِأَنَّهَا كُلَّهَا عِنْدَهُمْ مِنْهُ، وَحُجَّتُهُمْ فِي ذَلِكَ مَا وَصَفَ اللهُ بِهِ المُؤْمِنِينَ فِي خَمْسَةِ مَوَاضِعَ مِنْ كِتَابِهِ؛ مِنْهُ قَوْلُهُ: {الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ} [آل عمران: 173]، وَقَوْلُهُ: {لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آَمَنُوا إِيمَانًا} [المدثر: 31]، وَقَوْلُهُ: {لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ} [الفتح: 4]، وَمَوْضِعَانِ آخَرَانِ قَدْ ذَكَرْنَاهُمَا فِي البَابِ الأَوَّلِ، فَاتَّبَعَ أَهْلُ السُّنَّةِ هَذِهِ الآيَاتِ وَتَأَوَّلُوهَا أَنَّ الزِّيَادَاتِ هِيَ الأَعْمَالُ الزَّاكِيَةُ

“Bab tentang penambahan dan pengurangan iman… Dan dengan pendapat inilah Sufyan, Al-Auza’i, dan Malik bin Anas berpendapat. Mereka melihat semua amal kebajikan termasuk penambahan dalam Islam, karena semuanya menurut mereka bagian darinya. Hujah mereka dalam hal itu adalah apa yang Allah sifatkan tentang orang-orang beriman dalam lima tempat dalam Kitab-Nya; di antaranya firman-Nya: {الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ} ((Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.’) (QS. Ali ‘Imran: 173). Dan firman-Nya: {لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آَمَنُوا إِيمَانًا} (Agar orang-orang yang telah diberi Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.) (QS. Al-Muddatstsir: 31). Dan firman-Nya: {لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ} (Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).) (QS. Al-Fath: 4). Dan dua tempat lain yang telah kami sebutkan pada bab pertama. Maka Ahlus Sunnah mengikuti ayat-ayat ini dan menakwilkannya bahwa penambahan-penambahan itu adalah amal-amal yang baik.”[35]

7. Dari Ishaq Al-Farawi, dia berkata: “Aku datang kepada Malik, dia berkata:

الإِيمَانُ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ؛ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ} [الفتح: 4]، وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ: {رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي} [البقرة: 260]، قَالَ: فَطُمَأْنِينَةُ قَلْبِهِ زِيَادَةٌ فِي إِيمَانِهِ

“Iman bertambah dan berkurang. Allah Azza wa Jalla berfirman: {لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ} (Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).) (QS. Al-Fath: 4). Dan Ibrahim berkata: {رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي} (Wahai Rabbku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.’ Allah berfirman: ‘Belum percayakah kamu?’ Ibrahim menjawab: ‘Aku telah percaya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).’) (QS. Al-Baqarah: 260).’ Malik berkata: ‘Maka ketenangan hatinya adalah penambahan pada imannya.”[36]

Ketidaksesuaian Asy’ariyah Syafi’iyah dengan Imam Mereka, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i

Pertama: Perkataan Asy-Syafi’i dalam Mencela Ilmu Kalam yang Digeluti dan Dipuji oleh Asy’ariyah

1. Dari Abu Tsaur, dia berkata: Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata:

مَا تَرَدَّى أَحَدٌ بِالكَلَامِ فَأَفْلَحَ

“Tidaklah seseorang terjatuh dalam ilmu kalam lalu beruntung.”[37]

2. Dari Yunus bin Abdul A’la, dari Asy-Syafi’i, dia berkata:

لَقَدْ اطَّلَعْتُ مِنْ أَهْلِ الكَلَامِ عَلَى شَيْءٍ، وَاللهِ مَا تَوَهَّمْتُهُ قَطُّ، وَلَأَنْ يُبْتَلَى المَرْءُ بِجَمِيعِ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ خَلَا الشِّرْكَ بِاللهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَبْتَلِيَهُ اللهُ بِالكَلَامِ

“Sungguh aku telah melihat (kitab) dari ahli kalam tentang sesuatu. Demi Allah, aku tidak pernah membayangkannya sama sekali. Dan sungguh, seseorang diuji dengan semua yang Allah larang selain syirik kepada Allah, itu lebih baik baginya daripada Allah mengujinya dengan ilmu kalam.”[38]

3. Dari Al-Hasan bin Abdul Aziz Al-Jarwi, dia berkata:

 كَانَ الشَّافِعِيُّ يَنْهَى النَّهْيَ الشَّدِيدَ عَنِ الكَلَامِ فِي الأَهْوَاءِ

“Asy-Syafi’i sangat keras melarang berbicara tentang hawa nafsu (dalam akidah).”[39]

4. Dari Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam, dia berkata:

كَانَ الشَّافِعِيُّ بَعْدَ أَنْ نَاظَرَ حَفْصًا الفَرْدَ يَكْرَهُ الكَلَامَ، وَكَانَ يَقُولُ: لَأَنْ يُفْتِيَ العَالِمُ فَيُقَالَ: أَخْطَأَ العَالِمُ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ فَيُقَالَ: زِنْدِيقٌ! وَمَا شَيْءٌ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنَ الكَلَامِ وَأَهْلِهِ

“Asy-Syafi’i setelah berdebat dengan Hafs Al-Fard[40] membenci ilmu kalam. Dia berkata: ‘Seorang alim berfatwa lalu dikatakan, ‘Si alim salah’, itu lebih baik baginya daripada dia berbicara (dalam ilmu kalam) lalu dikatakan, ‘Zindiq!’ Dan tidak ada sesuatu yang lebih kubenci daripada ilmu kalam dan ahlinya.”[41]

Adz-Dzahabi berkomentar:

هَذَا دَالٌّ عَلَى أَنَّ مَذْهَبَ أَبِي عَبْدِ اللهِ أَنَّ الخَطَأَ فِي الأُصُولِ لَيْسَ كَالخَطَأِ فِي الاجْتِهَادِ فِي الفُرُوعِ

“Ini menunjukkan bahwa menurut Abu Abdullah (Asy-Syafi’i), kesalahan dalam ushul (akidah) tidak sama dengan kesalahan dalam ijtihad dalam furu’ (fikih).”[42]

5. Dari Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam, dia berkata: Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata:

 لَوْ عَلِمَ النَّاسُ مَا فِي الكَلَامِ وَالأَهْوَاءِ لَفَرُّوا مِنْهُ كَمَا يَفِرُّونَ مِنَ الأَسَدِ

“Seandainya manusia mengetahui apa yang ada dalam ilmu kalam dan hawa nafsu (bid’ah akidah), niscaya mereka akan lari darinya sebagaimana lari dari singa.”[43]

6. Dari Yunus bin Abdul A’la, dia berkata: Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata:

إِذَا سَمِعْتَ الرَّجُلَ يَقُولُ: الاسْمُ غَيْرُ المُسَمَّى، أَوِ الشَّيْءُ غَيْرُ المُشَيَّا، فَاشْهَدْ عَلَيْهِ بِالزَّنْدَقَةِ

“Jika kamu mendengar seorang laki-laki berkata, ‘Al-ism (nama) bukan al-musamma (yang dinamai)’, atau ‘Asy-syai` (sesuatu) bukan al-musyayya (yang diadakan)’, maka persaksikanlah atasnya sebagai zindiq.”[44]

7. Dari Ar-Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi, dia berkata:

رَأَيْتُ الشَّافِعِيَّ وَهُوَ نَازِلٌ مِنَ الدَّرَجَةِ، وَقَوْمٌ فِي المَجْلِسِ يَتَكَلَّمُونَ بِشَيْءٍ مِنَ الكَلَامِ، فَصَاحَ، فَقَالَ: إِمَّا أَنْ تَجَاوِرُونَا بِخَيْرٍ، وَإِمَّا أَنْ تَقُومُوا عَنَّا

“Aku melihat Asy-Syafi’i sedang turun dari anak tangga, dan ada sekelompok orang di majelis yang berbicara tentang sesuatu dari ilmu kalam. Maka Asy-Syafi’i berteriak dan berkata, ‘Pilihlah, tinggallah bersama kami dengan kebaikan, atau keluarlah dari kami.”[45]

8. Dari Al-Husain bin Ali, dia mendengar Asy-Syafi’i berkata:

حُكْمِي فِي أَهْلِ الكَلَامِ حُكْمُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي صَبِيغٍ

“Hukumku terhadap ahli kalam adalah hukum Umar radhiyallahu ‘anhu terhadap Shabigh.”[46][47]

9. Dari Muhammad bin ‘Aqil bin Al-Azhar Al-Faqih, dia berkata:

 جَاءَ رَجُلٌ إِلَى المُزَنِيِّ، فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ مِنَ الكَلَامِ، فَقَالَ: إِنِّي أَكْرَهُ هَذَا، بَلْ أَنْهَى عَنْهُ، كَمَا نَهَى عَنْهُ الشَّافِعِيُّ

“Seorang laki-laki datang kepada Al-Muzani, lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu dari ilmu kalam. Al-Muzani berkata: ‘Aku membenci ini, bahkan aku melarangnya, sebagaimana Asy-Syafi’i melarangnya.”[48]

Kedua: Perkataan Asy-Syafi’i tentang Wajibnya Pasrah kepada Nash-nash, dan Tidak Mendahulukan Akal daripada Dalil Naql, Berbeda dengan Asy’ariyah

1. Asy-Syafi’i berkata:

وَلَيْسَ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا اتِّبَاعُهَا بِفَرْضِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالمَسْأَلَةُ بِكَيْفَ فِي شَيْءٍ قَدْ ثَبَتَتْ فِيهِ السُّنَّةُ مَا لَا يَسَعُ عَالِمًا، وَاللهُ أَعْلَمُ

“Tidak ada dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali mengikutinya karena kewajiban dari Allah Azza wa Jalla. Dan pertanyaan ‘bagaimana’ tentang sesuatu yang telah tetap padanya sunnah, adalah sesuatu yang tidak boleh bagi seorang alim. Wallahu a’lam.”[49]

2. Beliau berkata:

إِنَّ لِلْعَقْلِ حَدًّا يَنْتَهِي إِلَيْهِ، كَمَا أَنَّ لِلْبَصَرِ حَدًّا يَنْتَهِي إِلَيْهِ

“Sesungguhnya akal memiliki batas akhir yang tidak dapat melampauinya, sebagaimana penglihatan memiliki batas akhir yang tidak dapat melampauinya.”[50]

3. Dari Muhammad bin Abdurrahman Al-Jauhari, dia berkata:

كُنْتُ عِنْدَ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ، فَقِيلَ لَهُ: هَاهُنَا فَتًى -يَعْنُونَ: الشَّافِعِيَّ- يَقُولُ: عَلَيْكُمْ بِحَدِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدَعُوا الرَّأْيَ، فَقَالَ سُفْيَانُ: جَزَى اللهُ هَذَا مِنْ فَتًى خَيْرًا

“Aku berada di sisi Sufyan bin ‘Uyainah. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Di sini ada seorang pemuda’ – maksudnya Asy-Syafi’i – ‘berkata, ‘Hendaklah kalian berpegang pada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tinggalkanlah ra’yu (pendapat akal).’ Maka Sufyan berkata, ‘Semoga Allah membalas pemuda ini dengan kebaikan.”[51]

Ketiga: Perkataan Asy-Syafi’i dalam Menolak Takwil dan Memalingkan Nash-Nash dari Zhahirnya Tanpa Hujah, Sedangkan Asy’ariyah Mewajibkannya

1. Asy-Syafi’i berkata:

 القُرْآنُ عَلَى ظَاهِرِهِ حَتَّى تَأْتِيَ دَلَالَةٌ مِنْهُ أَوْ سُنَّةٌ أَوْ إِجْمَاعٌ بِأَنَّهُ عَلَى بَاطِنٍ دُونَ ظَاهِرٍ

“Al-Qur’an (dipahami) berdasarkan zhahirnya, sampai datang dalil darinya, atau sunnah, atau ijma’ yang menunjukkan bahwa ia bermakna batin, bukan zhahir.”[52]

2. Dan dari perkataan Asy-Syafi’i juga:

الحَدِيثُ عَلَى عُمُومِهِ وَظُهُورِهِ وَإِنْ احْتَمَلَ مَعْنًى غَيْرَ العَامِّ وَالظَّاهِرِ، حَتَّى تَأْتِيَ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّهُ خَاصٌّ دُونَ عَامٍّ، وَبَاطِنٌ دُونَ ظَاهِرٍ

“Hadits (dipahami) berdasarkan keumuman dan kezhahirannya, meskipun mengandung makna selain yang umum dan zhahir, sampai datang dalil yang menunjukkan bahwa ia khusus, bukan umum, dan batin, bukan zhahir.”[53]

3. Dia berkata:

الأَصْلُ قُرْآنٌ أَوْ سُنَّةٌ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَقِيَاسٌ عَلَيْهِمَا، وَإِذَا اتَّصَلَ الحَدِيثُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَحَّ الإِسْنَادُ بِهِ، فَهُوَ سُنَّةٌ. وَالإِجْمَاعُ: أَكْبَرُ مِنَ الخَبَرِ المُنْفَرِدِ. وَالحَدِيثُ عَلَى ظَاهِرِهِ، وَإِذَا احْتَمَلَ الحَدِيثُ المَعَانِيَ فَمَا أَشْبَهَ مِنْهَا ظَاهِرَ الأَحَادِيثِ أُولَاهَا بِهِ، وَإِذَا تَكَافَأَتِ الأَحَادِيثُ فَأَصَحُّهَا إِسْنَادًا أُولَاهَا

“Sumber (hukum) adalah Al-Qur’an atau Sunnah. Jika tidak ada, maka qiyas atas keduanya. Dan jika hadits bersambung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sanadnya shahih darinya, maka ia adalah sunnah. Ijma’ lebih besar (kekuatannya) daripada khabar ahad. Hadits (dipahami) berdasarkan zhahirnya. Dan jika hadits mengandung beberapa makna, maka yang paling mirip dengan zhahir hadits-hadits lain, itulah yang lebih utama. Dan jika hadits-hadits tersebut seimbang, maka yang paling shahih sanadnya adalah yang paling utama.”[54]

Keempat: Perkataan Asy-Syafi’i dalam Menetapkan Sifat-Sifat (Allah), Sedangkan Asy’ariyah Menakwilkannya

Ibnu Katsir Asy-Syafi’i berkata tentang Imam Asy-Syafi’i:

 قَدْ رُوِيَ عَنْهُ الرَّبِيعُ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ رُؤُوسِ أَصْحَابِهِ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ كَانَ يَمُرُّ بِآيَاتِ الصِّفَاتِ وَأَحَادِيثِهَا كَمَا جَاءَتْ مِنْ غَيْرِ تَكْيِيفٍ وَلَا تَشْبِيهٍ، وَلَا تَعْطِيلٍ وَلَا تَحْرِيفٍ، عَلَى طَرِيقَةِ السَّلَفِ

“Telah diriwayatkan darinya oleh Ar-Rabi’ dan banyak dari tokoh-tokoh ashhabnya sesuatu yang menunjukkan bahwa beliau membiarkan ayat-ayat dan hadits-hadits sifat sebagaimana datangnya, tanpa takyif (menanyakan kaifiyah), tanpa tasybih (penyerupaan), tanpa ta’thil (penolakan), dan tanpa tahrif (pengubahan), sesuai dengan metode salaf.”[55]

1. Dari Abu Syu’aib dan Abu Tsaur, dari Abu Abdullah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, dia berkata:

القَوْلُ فِي السُّنَّةِ الَّتِي أَنَا عَلَيْهَا، وَرَأَيْتُ أَصْحَابِي عَلَيْهَا، أَهْلَ الحَدِيثِ الَّذِينَ رَأَيْتُهُمْ فَأَخَذْتُ عَنْهُمْ؛ مِثْلُ سُفْيَانَ، وَمَالِكٍ، وَغَيْرِهِمَا: الإِقْرَارُ بِشَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَأَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِي سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ، وَأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ…

“Perkataan tentang As-Sunnah yang aku berada di atasnya, dan aku melihat para ashhab kami – ahli hadits yang aku lihat dan aku ambil dari mereka seperti Sufyan, Malik, dan selain mereka – berada di atasnya adalah: Pengakuan atas syahadat bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, dan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya di langit-Nya, Dia dekat dengan makhluk-Nya sebagaimana yang Dia kehendaki, dan bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia sebagaimana yang Dia kehendaki….” dan dia menyebutkan akidah lainnya.[56]

2. Dari Yunus bin Abdul A’la, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata ketika ditanya tentang sifat-sifat Allah Ta’ala dan apa yang diimani tentang-Nya. Beliau berkata:

“للهِ تَعَالَى أَسْمَاءٌ وَصِفَاتٌ جَاءَ بِهَا كِتَابُهُ وَأَخْبَرَ بِهَا نَبِيُّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّتَهُ، لَا يَسَعُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِ اللهِ تَعَالَى قَامَتْ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ رَدُّهَا؛ لِأَنَّ الْقُرْآنَ نَزَلَ بِهَا، وَصَحَّ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَوْلُ بِهَا فِيمَا رَوَى عَنْهُ الْعُدُولُ، فَإِنْ خَالَفَ ذَلِكَ بَعْدَ ثُبُوتِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ فَهُوَ كَافِرٌ، فَأَمَّا قَبْلَ ثُبُوتِ الْحُجَّةِ فَمَعْذُورٌ بِالْجَهْلِ؛ لِأَنَّ عِلْمَ ذَلِكَ لَا يُدْرَكُ بِالْعَقْلِ وَلَا بِالرُّؤْيَةِ وَالْفِكْرِ، وَلَا نُكَفِّرُ بِالْجَهْلِ بِهَا أَحَدًا إِلَّا بَعْدَ انْتِهَاءِ الْخَبَرِ إِلَيْهِ بِهَا، وَنُثْبِتُ هَذِهِ الصِّفَاتِ، وَنَنْفِي عَنْهَا التَّشْبِيهَ، كَمَا نَفَى التَّشْبِيهَ عَنْ نَفْسِهِ، فَقَالَ: {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}

“Allah Ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang dibawa oleh Kitab-Nya dan dikabarkan oleh Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya. Tidak boleh bagi seorang pun dari makhluk Allah Ta’ala yang telah tegak hujah atasnya untuk menolaknya; karena Al-Qur’an turun dengannya, dan telah shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam perkataan tentangnya dalam apa yang diriwayatkan oleh orang-orang yang adil darinya. Jika seseorang menyelisihi hal itu setelah hujah tegak atasnya, maka dia kafir. Adapun sebelum tegaknya hujah, maka dia dimaafkan karena kebodohan; karena ilmu tentang itu tidak dapat dicapai dengan akal, penglihatan, maupun pemikiran. Dan kami tidak mengkafirkan seorang pun karena kebodohan terhadapnya kecuali setelah sampainya kabar tentangnya kepadanya. Kami menetapkan sifat-sifat ini, dan kami menafikan tasybih (penyerupaan) darinya, sebagaimana Dia menafikan tasybih dari diri-Nya, berfirman: “لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat).”[57]

3. Dari Ar-Rabi’ bin Sulaiman, dia berkata:

“سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ يَقُولُ فِي قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ {كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ} [المطففين: 15]: أَعْلَمَنَا بِذَلِكَ أَنَّ ثَمَّ قَوْمًا غَيْرَ مَحْجُوبِينَ يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ لَا يُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ، وَهُمُ الْمُؤْمِنُونَ، كَمَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «تَرَوْنَ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَمَا تَرَوْنَ الشَّمْسَ لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهَا»[

“Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata tentang firman Allah Azza wa Jalla: {كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ} (Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka). (QS. Al-Muthaffifin: 15): ‘Dengan ini Allah memberitahukan kepada kita bahwa di sana ada kaum yang tidak terhalangi, mereka melihat kepada-Nya dan tidak dirugikan dalam melihat-Nya. Mereka adalah orang-orang beriman, sebagaimana datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Kalian akan melihat Rabb kalian Azza wa Jalla pada hari kiamat sebagaimana kalian melihat matahari, kalian tidak dirugikan dalam melihatnya.”).[58][59]

4. Dari Ar-Rabi’ bin Sulaiman, dia berkata:

“حَضَرْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِدْرِيسَ الشَّافِعِيَّ وَقَدْ جَاءَتْهُ رُقْعَةٌ مِنَ الصَّعِيدِ فِيهَا: مَا تَقُولُ فِي قَوْلِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: {كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ} [المطففين: 15]؟ قَالَ الشَّافِعِيُّ: فَلَمَّا أَنْ حُجِبُوا هَؤُلَاءِ فِي السَّخَطِ كَانَ فِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُمْ يَرَوْنَهُ فِي الرِّضَا، قَالَ الرَّبِيعُ: قُلْتُ: يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ، وَبِهِ تَقُولُ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَبِهِ أَدِينُ اللهَ، لَوْ لَمْ يُوقِنْ مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ أَنَّهُ يَرَى اللهَ لَمَا عَبَدَ اللهَ تَعَالَى

“Aku menghadiri majelis Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, dan datang kepadanya secarik kertas dari pedalaman berisi pertanyaan: ‘Apa pendapatmu tentang firman Allah Tabaaraka wa Ta’ala: {كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ} (Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka). (QS. Al-Muthaffifin: 15)?” Asy-Syafi’i berkata: ‘Ketika mereka ini dihalangi dalam keadaan murka (kepada mereka), maka dalam hal ini terdapat dalil bahwa mereka (orang beriman) akan melihat-Nya dalam keadaan ridha.’ Ar-Rabi’ berkata: Aku bertanya, ‘Wahai Abu Abdillah, dengan ini engkau berpendapat?’ Dia menjawab, ‘Ya, dan dengan ini aku menyembah Allah. Seandainya Muhammad bin Idris tidak meyakini bahwa dia akan melihat Allah, niscaya dia tidak akan menyembah Allah Ta’ala.’).”[60]

5. Al-Muzani berkata:

 “سَمِعْتُ ابْنَ هَرَمٍ الْقُرَشِيَّ يَقُولُ: سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ يَقُولُ فِي قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: {كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ} [المطففين: 15] قَالَ: فَلَمَّا حَجَبَهُمْ فِي السَّخَطِ كَانَ هَذَا دَلِيلًا عَلَى أَنَّهُمْ يَرَوْنَهُ فِي الرِّضَا. قَالَ: فَقَالَ أَبُو النَّجْمِ الْقَزْوِينِيُّ: يَا أَبَا إِبْرَاهِيمَ، بِهِ تَقُولُ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَبِهِ أَدِينُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ: فَقَامَ إِلَيْهِ عِصَامٌ وَقَبَّلَ رَأْسَهُ، وَقَالَ: يَا سَيِّدَ الشَّافِعِيِّينَ، الْيَوْمَ بَيَّضْتَ وُجُوهَنَا

“Aku mendengar Ibnu Haram Al-Qurasyi berkata: Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata tentang firman Allah Azza wa Jalla: {كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ} (Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka). (QS. Al-Muthaffifin: 15), dia berkata: ‘Ketika Allah menghalangi mereka dalam keadaan murka, maka ini menjadi dalil bahwa mereka (orang beriman) akan melihat-Nya dalam keadaan ridha.’ Lalu Abu An-Najm Al-Qazwini berkata, ‘Wahai Abu Ibrahim (Al-Muzani), dengan ini engkau berpendapat?’ Dia menjawab, ‘Ya, dan dengan ini aku menyembah Allah Azza wa Jalla.’ Lalu ‘Isham berdiri mendatanginya, mencium kepalanya, dan berkata, ‘Wahai tuannya para pengikut Asy-Syafi’i, hari ini engkau telah memutihkan wajah-wajah kami.’).”[61]

6. Dan Asy-Syafi’i berkata:

 “مَعْنَى قَوْلِهِ فِي الْكِتَابِ: {مَنْ فِي السَّمَاءِ} [الملك: 16، 17]، مَنْ فَوْقَ السَّمَاءِ عَلَى الْعَرْشِ، كَمَا قَالَ: {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} [طه: 5]، الْآيَةَ، وَكُلُّ مَا عَلَا فَهُوَ سَمَاءٌ، وَالْعَرْشُ أَعْلَى السَّمَوَاتِ؛ فَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كَمَا أَخْبَرَ بِلَا كَيْفٍ، بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ، غَيْرُ مُمَاسٍّ مِنْ خَلْقِهِ، {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ} [الشورى: 11]

“Makna firman-Nya dalam Kitab: {مَنْ فِي السَّمَاءِ} (Siapakah yang di langit). (QS. Al-Mulk: 16, 17) adalah: Siapa yang di atas langit, di atas ‘Arsy, sebagaimana Dia berfirman: {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} (Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) bersemayam di atas ‘Arsy). (QS. Thaha: 5). Dan segala yang tinggi adalah langit, dan ‘Arsy adalah yang tertinggi dari langit-langit. Maka Dia berada di atas ‘Arsy, Mahasuci Dia dan Mahatinggi, sebagaimana yang Dia kabarkan tanpa (menanyakan) kaifiyah, terpisah dari makhluk-Nya, tidak menyentuh sesuatu dari makhluk-Nya. {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ} (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat). (QS. Asy-Syura: 11)).”[62]

Kelima: Perkataan Imam Asy-Syafi’i dalam Mengambil Khabar Ahad dalam Bab-Bab Akidah, Sedangkan Asy’ariyah Menolaknya

Perkataan Imam Asy-Syafi’i dalam bab ini sangat banyak. Maka kami cukupkan dengan berikut ini:

1. Asy-Syafi’i berkata:

 “تَثْبِتُ خَبَرِ الْوَاحِدِ أَقْوَى مِنْ أَنْ أَحْتَاجَ إِلَى أَنْ أُمَثِّلَهُ بِغَيْرِهِ، بَلْ هُوَ أَصْلٌ فِي نَفْسِهِ… فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ: اذْكُرِ الْحُجَّةَ فِي تَثْبِيتِ خَبَرِ الْوَاحِدِ بِنَصِّ خَبَرٍ، أَوْ دَلَالَةٍ فِيهِ، أَوْ إِجْمَاعٍ، قُلْتُ لَهُ: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ أَبِيهِ: أَنَّ النَّبِيَّ قَالَ: «نَضَّرَ اللهُ عَبْدًا سَمِعَ مَقَالَتِي فَحَفِظَهَا وَوَعَاهَا وَأَدَّاهَا، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ غَيْرُ فَقِيهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ»…، فَلَمَّا نَدَبَ رَسُولُ اللهِ إِلَى اسْتِمَاعِ مَقَالَتِهِ وَحِفْظِهَا وَأَدَائِهَا امْرَأً يُؤَدِّيَهَا، وَالْمَرْءُ وَاحِدٌ، دَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَا يَأْمُرُ أَنْ يُؤَدَّى عَنْهُ إِلَّا مَا تَقُومُ بِهِ الْحُجَّةُ عَلَى مَنْ أَدَّى إِلَيْهِ؛ لِأَنَّهُ إِنَّمَا يُؤَدَّى عَنْهُ حَلَالٌ، وَحَرَامٌ يُجْتَنَبُ، وَحَدٌّ يُقَامُ، وَمَالٌ يُؤْخَذُ وَيُعْطَى، وَنَصِيحَةٌ فِي دِينٍ وَدُنْيَا

“Penetapan khabar ahad lebih kuat daripada aku perlu memberikan permisalan dengan selainnya, bahkan ia adalah sumber pada dirinya sendiri… Jika ada yang berkata, ‘Sebutkan hujah dalam penetapan khabar ahad dengan nash khabar, atau indikasi di dalamnya, atau ijma’,’ maka aku katakan kepadanya: ‘Sufyan mengabarkan kepada kami dari Abdul Malik bin ‘Umair dari Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud dari ayahnya: bahwa Nabi bersabda: “Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah seorang hamba yang mendengar ucapanku, lalu menghafalnya, menjaganya, dan menyampaikannya. Betapa banyak pembawa fiqh yang bukan faqih, dan betapa banyak pembawa fiqh kepada orang yang lebih faqih darinya.[63]“… Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan untuk mendengar ucapannya, menghafalnya, dan menyampaikannya kepada seorang yang akan menyampaikannya, dan orang itu seorang diri, maka ini menunjukkan bahwa beliau tidak memerintahkan untuk disampaikan darinya kecuali apa yang dapat menegakkan hujah atas orang yang disampaikan kepadanya; karena yang disampaikan darinya adalah halal, haram yang dijauhi, hukum yang ditegakkan, harta yang diambil dan diberikan, serta nasihat dalam agama dan dunia.’).”[64]

2. Dan beliau berkata:

فِي كِتَابِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى دَلِيلٌ عَلَى مَا وَصَفْتُ:

 قَالَ اللهُ: {إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ} [نوح: 1]…

وقال تبارك وتعالى: {وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ} [هود: 25، والمُؤمِنون: 23، والعنكبوت: 14].

وقال: {وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ} [النساء 163].

وقال: {وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا} [الأعراف 65، وهود 50].

وقال: {وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا} [الأعراف 73، وهود 61].

وقال تعالى: {وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا} [الأعراف 85، وهود 84، والعنكبوت 36].

وقال: {كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ  إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ لُوطٌ أَلَا تَتَّقُونَ  إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ  فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ} [لشعراء 160 – 163].

وقال لنبيِّه محمَّدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: {إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ} [النساء 163].

وقال: {وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ} [آل عمران 144].

فَأَقَامَ جَلَّ ثَنَاؤُهُ حُجَّتَهُ عَلَى خَلْقِهِ فِي أَنْبِيَائِهِ فِي الْأَعْلَامِ الَّتِي بَايَنُوا بِهَا خَلْقَهُ سِوَاهُمْ، وَكَانَتِ الْحُجَّةُ بِهَا ثَابِتَةً عَلَى مَنْ شَاهَدَ أُمُورَ الْأَنْبِيَاءِ وَدَلَائِلَهُمُ الَّتِي بَايَنُوا بِهَا غَيْرَهُمْ، وَمَنْ بَعْدَهِمْ، وَكَانَ الْوَاحِدُ فِي ذَلِكَ وَأَكْثَرُ مِنْهُ سَوَاءً، تَقُومُ الْحُجَّةُ بِالْوَاحِدِ مِنْهُمْ قِيَامًا بِالْأَكْثَرِ.

“Dalam Kitab Allah Tabaaraka wa Ta’ala terdapat dalil atas apa yang aku sebutkan:

Allah berfirman: {إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ} (Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya). (QS. Nuh: 1)

Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ (Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya).” (QS. Hud: 25, Al-Mu’minun: 23, Al-‘Ankabut: 14).

Dan Dia berfirman: “وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ (Dan Kami telah mewahyukan kepada Ibrahim dan Ismail).” (QS. An-Nisa’: 163).

Dan Dia berfirman: “وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا (Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud).” (QS. Al-A’raf: 65, dan Hud: 50).

Dan Dia berfirman: “وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا (Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shalih).” (QS. Al-A’raf: 73, dan Hud: 61).

Dan Allah Ta’ala berfirman: “وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا (Dan kepada penduduk Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib).” (QS. Al-A’raf: 85, Hud: 84, dan Al-‘Ankabut: 36).

Dan Dia berfirman: “كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ * إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ لُوطٌ أَلَا تَتَّقُونَ * إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ * فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (Kaum Lut telah mendustakan para rasul, ketika saudara mereka, Lut, berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku’).” (QS. Asy-Syu’ara’: 160-163).

Dan Dia berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam: “إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ (Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh).” (QS. An-Nisa’: 163).

Dan Dia berfirman: “وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ (Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul).” (QS. Ali ‘Imran: 144).

Maka Allah Yang Mahatinggi pujian-Nya menegakkan hujah-Nya atas makhluk-Nya melalui para nabi-Nya dengan tanda-tanda yang dengannya mereka berbeda dengan makhluk-Nya selain mereka. Dan hujah dengannya tetap atas orang yang menyaksikan urusan para nabi dan dalil-dalil mereka yang dengannya mereka berbeda dengan selain mereka, dan atas orang-orang setelah mereka. Dan jumlah seorang nabi dalam hal ini sama dengan jumlah yang lebih banyak. Hujah dapat tegak dengan seorang nabi sebagaimana tegaknya dengan jumlah yang lebih banyak.”[65]

3. Dan dia berkata setelah menyebutkan hadits-hadits dalam bab ini:

 وَفِي تَثْبِيتِ خَبَرِ الْوَاحِدِ أَحَادِيثُ، يَكْفِي بَعْضُ هَذَا مِنْهَا، وَلَمْ يَزَلْ سَبِيلُ سَلَفِنَا وَالْقُرُونِ بَعْدَهُمْ إِلَى مَنْ شَاهَدْنَا هَذَا السَّبِيلَ، وَكَذَلِكَ حُكِيَ لَنَا عَمَّنْ حُكِيَ لَنَا عَنْهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالْبُلْدَانِ

“Dan dalam penetapan khabar ahad terdapat hadits-hadits, sebagian yang disebutkan ini sudah mencukupi. Dan jalannya para salaf kita dan generasi-generasi setelah mereka hingga orang-orang yang kami saksikan adalah jalur ini. Demikian pula dikabarkan kepada kami dari orang-orang yang dikabarkan kepada kami tentangnya dari para ulama di berbagai negeri).”, kemudian dia menyebutkan nama-nama sejumlah sahabat, tabi’in, ahli hadits, dan tokoh-tokoh mereka di berbagai kota.

Beliau berkata:

“كُلُّهُمْ يُحْفَظُ عَنْهُ تَثْبِيتُ خَبَرِ الْوَاحِدِ عَنْ رَسُولِ اللهِ، وَالانْتِهَاءُ إِلَيْهِ، وَالْإِفْتَاءُ بِهِ، وَيَقْبَلُهُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ عَمَّنْ فَوْقَهُ، وَيَقْبَلُهُ عَنْهُ مَنْ تَحْتَهُ. وَلَوْ جَازَ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ أَنْ يَقُولَ فِي عِلْمِ الْخَاصَّةِ: أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ قَدِيمًا وَحَدِيثًا عَلَى تَثْبِيتِ خَبَرِ الْوَاحِدِ، وَالانْتِهَاءِ إِلَيْهِ، بِأَنَّهُ لَمْ يُعْلَمْ مِنْ فُقَهَاءِ الْمُسْلِمِينَ أَحَدٌ إِلَّا وَقَدْ ثَبَّتَهُ، جَازَ لِي. وَلَكِنْ أَقُولُ: لَمْ أَحْفَظْ عَنْ فُقَهَاءِ الْمُسْلِمِينَ أَنَّهُمُ اخْتَلَفُوا فِي تَثْبِيتِ خَبَرِ الْوَاحِدِ بِمَا وَصَفْتُ مِنْ أَنَّ ذَلِكَ مَوْجُودٌ عَلَى كُلِّهِمْ

“Semuanya diriwayatkan darinya penetapan khabar ahad dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berpegang padanya, dan berfatwa dengannya. Setiap orang dari mereka menerimanya dari orang di atasnya, dan orang di bawahnya menerimanya darinya. Seandainya boleh bagi seseorang untuk mengatakan dalam pengetahuan khusus: ‘Kaum muslimin dahulu dan sekarang telah sepakat atas penetapan khabar ahad dan berpegang padanya, bahwa tidak diketahui seorang pun dari fuqaha muslimin kecuali dia telah menetapkannya,’ niscaya boleh bagiku (untuk mengatakan itu). Tetapi aku katakan: Aku tidak mendapatkan riwayat dari fuqaha muslimin bahwa mereka berselisih dalam penetapan khabar ahad sebagaimana yang aku sebutkan, bahwa hal itu (penetapan khabar ahad) ada pada mereka semua.”[66]

Keenam: Perkataan Asy-Syafi’i bahwa Iman adalah Ucapan dan Perbuatan, Bertambah dan Berkurang, Sedangkan Asy’ariyah Berkata Iman Hanyalah Pembenaran (Tashdiq) dalam Hati

1. Dari Ar-Rabi’ bin Sulaiman, dia berkata: Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata:

الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، يَزِيدُ وَيَنْقُصُ

“Iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.”[67]

2. Dari Abu ‘Utsman Muhammad bin Muhammad Asy-Syafi’i, dia berkata:

 سَمِعْتُ أَبِي مُحَمَّدَ بْنَ إِدْرِيسَ الشَّافِعِيَّ يَقُولُ لَيْلَةً لِلْحُمَيْدِيِّ: مَا يُحْتَجُّ عَلَيْهِمْ -يَعْنِي: أَهْلَ الْإِرْجَاءِ- بِآيَةٍ أَحَجَّ مِنْ قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: {وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ} [البينة: 5]

“Aku mendengar ayahku, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, berkata pada suatu malam kepada Al-Humaidi: ‘Tidak ada ayat yang lebih tepat untuk dijadikan hujah atas mereka – maksudnya: ahli irja’ – daripada firman Allah Azza wa Jalla: {وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ} “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus). (QS. Al-Bayyinah: 5)”[68]

3. Dari Abu Hatim, dia berkata: Aku mendengar Harmalah bin Yahya:

تَنَاظَرَ رَجُلَانِ بِحَضْرَةِ الشَّافِعِيِّ بِمِصْرَ فِي دَارِ ابْنِ الْجَرَوِيِّ فِي الْإِيمَانِ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا: إِنَّ الْإِيمَانَ قَوْلٌ، فَحَمِيَ الشَّافِعِيُّ مِنْ ذَلِكَ، وَتَقَلَّدَ الْمَسْأَلَةَ عَلَى أَنَّ الْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، يَزِيدُ وَيَنْقُصُ. فَطَحَنَ الرَّجُلَ وَقَطَعَهُ

“Dua orang laki-laki berdebat di hadapan Asy-Syafi’i di Mesir di rumah Ibnu Al-Jarwi tentang iman. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Sesungguhnya iman adalah ucapan.’ Maka Asy-Syafi’i marah karenanya, dan beliau mengambil alih pembahasan dengan menyatakan bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Lalu beliau membungkam dan mematahkan argumen laki-laki itu.”[69]

Kesimpulan

Berikut adalah poin-poin kesimpulan utama:

A. Kontradiksi dan Inkonsistensi Kaum Asy’ariyah:

1. Kaum Asy’ariyah muta’akhkhirin melakukan taqlid buta dalam masalah fikih (furu’) kepada Imam Malik dan Asy-Syafi’i, namun pada saat yang sama menyimpang dan menyelisihi mereka dalam masalah akidah (ushul).

2. Sikap ini dinilai kontradiktif, aneh, dan tercela secara syar’i dan fitrah oleh para ulama seperti As-Sam’ani dan Al-Karajji, karena tidak mungkin seseorang mengklaim mengikuti seorang imam sambil meyakini bahwa imam tersebut sesat atau keliru dalam dasar agamanya.

3. Klaim seperti “Saya Syafi’i dalam fikih, Asy’ari dalam akidah” atau “Saya Hanbali dalam fikih, Mu’tazili dalam akidah” dianggap sebagai kesesatan dan kemurtadan dari jalan yang lurus.

B. Penyelisihan Asy’ariyah Terhadap Keyakinan Imam Malik bin Anas:

1. Dalam Metodologi Ilmu:

     Imam Malik mencela keras ilmu kalam dan menilai orang yang mencari agama melaluinya akan menjadi zindiq.

     Asy’ariyah justru menggeluti dan membangun akidahnya di atas ilmu kalam yang dicela oleh imam mereka.

2. Dalam Menetapkan Sifat-Sifat Allah:

     Imam Malik menetapkan sifat-sifat Allah secara hakiki tanpa takyif (menanyakan kaifiyah), seperti istiwa’, nuzul, kalam, dan ru’yah (melihat Allah di akhirat).

     Asy’ariyah melakukan takwil dan menolak makna zhahir dari banyak sifat, seperti menolak bahwa Allah di atas ‘Arsy, di atas langit, akan dilihat oleh mukminin, dan bahwa Allah berfirman dengan huruf dan suara.

3. Dalam Memahami Nash:

     Imam Malik berpegang pada prinsip “Biarkanlah ia sebagaimana datangnya tanpa (menanyakan) kaifiyah” untuk nash-nash sifat.

     Asy’ariyah mewajibkan takwil dan memalingkan nash dari makna zhahirnya.

4. Dalam Definisi Iman:

     Imam Malik mendefinisikan iman sebagai “ucapan dan perbuatan, yang bertambah dan berkurang”.

     Asy’ariyah mendefinisikan iman hanya sebagai pembenaran (tashdiq) dalam hati, menafikan amal sebagai bagian dari hakikat iman.

C. Penyelisihan Asy’ariyah Terhadap Keyakinan Imam Asy-Syafi’i:

1. Dalam Metodologi Ilmu:

     Imam Asy-Syafi’i sangat keras mencela ilmu kalam dan ahli kalam, bahkan menyamakannya dengan keburukan singa dan mengancam pelakunya dengan zindiq.

     Asy’ariyah justru menjadikan ilmu kalam sebagai ushuluddin (dasar agama) yang wajib dipelajari.

2. Dalam Sumber Akidah dan Sikap terhadap Nash:

     Imam Asy-Syafi’i mewajibkan berpegang pada zhahir nash Al-Qur’an dan Hadits hingga datang dalil yang memalingkannya, serta melarang mendahulukan akal atas naql.

     Asy-Syafi’i juga menerima khabar ahad (hadits yang diriwayatkan perawi tunggal) sebagai hujah dalam akidah.

     Asy’ariyah sering mendahulukan kaidah akal yang mereka bangun dan melakukan takwil terhadap nash. Mereka juga menolak khabar ahad dalam masalah akidah.

3. Dalam Menetapkan Sifat-Sifat Allah:

     Imam Asy-Syafi’i menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana zhahirnya tanpa takyif, seperti istiwa’, nuzul, dan ru’yah, serta menegaskan bahwa Allah di atas ‘Arsy, di atas langit.

     Asy’ariyah menakwilkan atau menolak sifat-sifat tersebut.

4. Dalam Definisi Iman:

     Imam Asy-Syafi’i sepakat dengan Imam Malik bahwa iman adalah “ucapan dan perbuatan, yang bertambah dan berkurang”, dan beliau membantah keras pendapat Murji’ah yang memisahkan amal dari iman.

     Asy’ariyah, dalam hal ini, sejalan dengan prinsip Murji’ah dengan mendefinisikan iman hanya sebagai tashdiq dalam hati.

Penutup

Kami memohon kepada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahakuasa agar memperlihatkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan memberikan rezeki kepada kami untuk mengikutinya,

Dan agar memperlihatkan kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan memberikan rezeki kepada kami untuk menjauhinya.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Daftar Pustaka

Abu Nu‘aim al-Aṣfahānī. Ḥilyat al-Awliyā’ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997.

Ahmad bin Ḥanbal. al-Musnad. Tahqiq Syu‘aib al-Arna’uth. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 2001.

al-Ājurri, Abū Bakr Muḥammad bin al-Ḥusain. asy-Syarī‘ah. Riyadh: Dār al-Waṭan, 1999.

al-Baghawī, al-Ḥusain bin Mas‘ūd. Syarḥ as-Sunnah. Beirut: al-Maktab al-Islāmī, 1983.

al-Baihaqī, Aḥmad bin al-Ḥusain. al-Asmā’ wa aṣ-Ṣifāt. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002.

———. Ma‘rifat as-Sunan wal-Ātsār. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1991.

———. Manāqib al-Imām asy-Syāfi‘ī. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995.

al-Bukhārī, Muḥammad bin Ismā‘īl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dār Ṭawq an-Najāḥ, 2002.

al-Dāraquthnī, ‘Alī bin ‘Umar. aṣ-Ṣifāt. Riyadh: Dār Aṭlas, 1993.

adz-Dzahabī, Muḥammad bin Aḥmad. al-‘Arsy. Madinah: al-Jāmi‘ah al-Islāmiyyah, 1982.

———. al-‘Uluw lil-‘Aliyyil Ghaffār. Riyadh: Dār al-Waṭan, 1998.

———. Siyar A‘lām an-Nubalā’. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 2001.

———. Tārīkh al-Islām. Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 1993.

al-Ḥākim an-Naisābūrī. al-Mustadrak ‘ala aṣ-Ṣaḥīḥain. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1990.

al-Ḥākim, Abū Aḥmad. Syi‘ār Aṣḥāb al-Ḥadīts. Riyadh: Dār al-Rāyah, 1988.

Ibnu ‘Abdil Barr an-Namari. at-Tamhīd limā fī al-Muwaṭṭa’. Rabat: Wizārah al-Awqāf al-Maghribiyyah, 1987.

———. al-Istidzkar. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2000.

———. Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlih. Riyadh: Dār Ibn al-Jauzī, 1994.

———. al-Intiqā’ fī Faḍā’il al-A’immah al-Fuqahā’. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997.

Ibnu Abi Ḥātim ar-Rāzī. Ādāb asy-Syāfi‘ī wa Manāqibuh. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003.

Ibnu Abi Zaid al-Qairawānī. al-Jāmi‘. Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 1999.

———. ar-Risālah. Beirut: Dār Ibn Ḥazm, 2002.

Ibnu Baththah al-‘Ukbarī. al-Ibānah al-Kubrā. Riyadh: Dār ar-Rāyah, 1994.

Ibnu Katsīr ad-Dimasyqī. al-Bidāyah wan-Nihāyah. Beirut: Dār al-Fikr, 1986.

———. Ṭabaqāt asy-Syāfi‘iyyah. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997.

Ibnu Qudāmah al-Maqdisī. Itsbāt Ṣifat al-‘Uluw. Riyadh: Dār Ibn al-Jauzī, 1999.

Ibnu Rusyd al-Jadd. al-Bayān wat-Taḥṣīl. Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 1988.

Ibnu Taimiyah, Aḥmad bin ‘Abdul Ḥalīm. Majmū‘ al-Fatāwā. Madinah: Majma‘ al-Malik Fahd, 1995.

al-Lālikā’ī, Hibatullāh bin al-Ḥasan. Syarḥ Uṣūl I‘tiqād Ahlis Sunnah wal Jamā‘ah. Riyadh: Dār Ṭayyibah, 2003.

Mālik bin Anas. al-Muwaṭṭa’. Beirut: Dār Iḥyā’ at-Turāts al-‘Arabī, 1985.

Muslim bin al-Ḥajjāj. Ṣaḥīḥ Muslim. Beirut: Dār Iḥyā’ at-Turāts al-‘Arabī, 1991.

as-Suyūṭī, Jalāluddīn. Ṣawn al-Manṭiq wal-Kalām. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998.

asy-Syāfi‘ī, Muḥammad bin Idrīs. al-Umm. Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1990.

———. ar-Risālah. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004.

at-Tirmidzī, Muḥammad bin ‘Īsā. Sunan at-Tirmidzī. Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 1996.


[1]Ia adalah Abu Ishaq asy-Syirazi (w. 476 H), seorang faqih Syafi‘i yang terkenal. Lihat: al-Isyārah ilā Madzhabi Ahlil Haqq karya beliau (h. 405). Para peneliti berbeda pendapat tentang akidah Abu Ishaq asy-Syirazi: apakah beliau seorang Asy‘ari atau bukan. Kutipan dari kitab beliau ini menunjukkan bahwa beliau Asy‘ari, namun terdapat pula riwayat-riwayat lain darinya yang menunjukkan bahwa beliau bukan Asy‘ari. Maka Allah-lah yang Maha Mengetahui. Lihat: Pendahuluan pentahqiq kitab an-Nukat fī al-Masā’il al-Mukhtalaf fīhā bayna asy-Syāfi‘ī wa Abī Ḥanīfah karya asy-Syirazi (h. 31–33).H.

[2]Lihat: Ṣawn al-Manṭiq wal-Kalām ‘an Fannay al-Manṭiq wal-Kalām karya as-Suyuthi (h. 201).

[3]al-Quthūf min al-Fuṣūl fī al-Uṣūl (h. 17–18).

[4]al-Istiqāmah (1/14–15).

[5]Lihat: Majmū‘ al-Fatāwā (4/175–177).

[6]Diriwayatkan oleh Muslim (no. 21) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

[7]Aḥādīts fī Dzammi al-Kalām wa Ahlih karya Abu al-Faḍl al-Muqri’ (h. 91–92).

[8]Aḥādīts fī Dzammi al-Kalām wa Ahlih karya Abu al-Faḍl al-Muqri’ (h. 96–97); Dzam al-Kalām wa Ahlih karya Abu Ismail al-Harawi (5/72–73); Syarḥ as-Sunnah karya al-Baghawi (1/217).

[9]Sumber sebelumnya (5/71).

[10]Maksudnya: orang-orang yang terjun dalam fitnah dan ilmu kalam.

[11]Tartīb al-Madārik wa Taqrīb al-Masālik karya Qadhi ‘Iyadh (2/39). Lihat pula: Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlih karya Ibnu ‘Abdil Barr (2/938).

[12]Tartīb al-Madārik wa Taqrīb al-Masālik karya Qadhi ‘Iyadh al-Maliki (2/42).

[13]Lihat: asy-Syarī‘ah karya al-Ajurri (3/1146); aṣ-Ṣifāt karya ad-Daraquthni (h. 44); al-Ibānah al-Kubrā karya Ibnu Baththah (7/242); Syarḥ Uṣūl I‘tiqād Ahlis Sunnah wal Jamā‘ah karya al-Lālikā’ī (3/558, 582); al-Asmā’ wa aṣ-Ṣifāt karya al-Baihaqi (2/377); Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlih karya Ibnu ‘Abdil Barr (2/943); al-Intiqā’ fī Faḍā’il ats-Tsalātsah al-A’immah al-Fuqahā’ (h. 36); al-Istidzkar (2/513); Syarḥ as-Sunnah karya al-Baghawi (1/171).

[14]Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 662) dengan lafazhnya, dan Ahmad (no. 9245). Hadits ini dishahihkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dalam Ṣaḥīḥ-nya (3316), al-Hakim sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim dalam al-Mustadrak (3283), Ibnu al-‘Arabi dalam ‘Āriḍah al-Aḥwadzī (2/119), dan al-Mundziri dalam at-Targhīb wat-Tarhīb (2/54). Asal hadits terdapat dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhari (1410) dan Ṣaḥīḥ Muslim (1014).

[15]Sunan at-Tirmidzi (3/41–42).

[16]Ḥilyah al-Awliyā’ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’ karya Abu Nu‘aim (6/325–326); Syarḥ Uṣūl I‘tiqād Ahlis Sunnah wal Jamā‘ah karya al-Lālikā’ī (3/441); al-Asmā’ wa aṣ-Ṣifāt karya al-Baihaqi (2/304–305). Ibnu Taimiyah berkata: “Jawaban Imam Malik rahimahullah tentang istiwa’ ini sudah menyembuhkan dan mencukupi dalam seluruh sifat Allah; seperti turun (nuzūl), datang, tangan, wajah, dan lainnya. Maka dikatakan tentang nuzul: nuzul itu diketahui (maknanya), bagaimana caranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan menanyakannya adalah bid‘ah. Demikian pula dikatakan pada seluruh sifat-sifat lainnya; karena semuanya sepadan dengan sifat istiwa’ yang disebutkan oleh Al-Kitab dan Sunnah.” (Majmū‘ al-Fatāwā 4/4)

[17]as-Sunnah karya ‘Abdullah bin Ahmad (1/107, 174, 280); asy-Syarī‘ah karya al-Ajurri (3/1076–1077); al-Ibānah al-Kubrā karya Ibnu Baththah (7/153–154); at-Tamhīd limā fī al-Muwaṭṭa’ min al-Ma‘ānī wal-Asānīd karya Ibnu ‘Abdil Barr (7/138); al-Intiqā’ fī Faḍā’il ats-Tsalātsah al-A’immah al-Fuqahā’ karya Ibnu ‘Abdil Barr (h. 35); Itsbāt Ṣifat al-‘Uluw karya Ibnu Qudāmah (h. 166). Lihat pula: ar-Risālah karya al-Qairawani (h. 5).

[18] Diriwayatkan oleh Malik (2/776), dan asal haditsnya terdapat dalam Ṣaḥīḥ Muslim (537) dari hadits Mu‘āwiyah bin al-Ḥakam radhiyallahu ‘anhu.

[19] Diriwayatkan oleh Malik (1/214). Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari (7494) dan Muslim (758).

[20]at-Tamhīd limā fī al-Muwaṭṭa’ min al-Ma‘ānī wal-Asānīd (7/128–129).

[21]Sumber sebelumnya (7/145). Maka ini adalah penjelasan seorang imam dari kalangan ulama Malikiyah, yang di dalamnya ia mensyarah sebuah hadits dalam al-Muwaṭṭa’ karya Imam Malik, serta menukil adanya ijma‘ dan bahwa hal tersebut merupakan pendapat jama‘ah kaum muslimin. Oleh karena itu, tidak mungkin imamnya—yaitu Imam Malik—tidak termasuk ke dalam ijma‘ dan jama‘ah tersebut.

[22] Itsbāt Ṣifat al-‘Uluw karya Ibnu Qudāmah (h. 180–181); al-‘Arsy karya adz-Dzahabi (2/289–290); al-‘Uluw lil-‘Aliyyil Ghaffār karya adz-Dzahabi (h. 165).

[23]Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (3045) dan beliau menshahihkannya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari (7419) dan Muslim (993) dengan lafaz: “tangan kanan Allah”. Lafaz al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya tangan kanan Allah itu penuh, tidak berkurang karena infak. Ia mengalir siang dan malam. Tidakkah kalian memperhatikan apa yang telah Dia infakkan sejak menciptakan langit dan bumi? Sesungguhnya hal itu tidak mengurangi apa yang ada di tangan kanan-Nya. Arsy-Nya berada di atas air, dan di tangan-Nya yang lain terdapat karunia—atau genggaman—Dia meninggikan dan merendahkan.”

[24]Sunan at-Tirmidzi (5/250–251).

[25]Uṣūl as-Sunnah karya Ibnu Abi Zamanin (h. 113); Majmū‘ al-Fatāwā karya Ibnu Taimiyah (5/56).

[26]Sīrah al-Imām Aḥmad bin Ḥanbal karya Ṣāliḥ bin Aḥmad (h. 66); as-Sunnah karya ‘Abdullah bin Ahmad (1/280); al-Ibānah al-Kubrā karya Ibnu Baththah (6/319).

[27]al-Intiqā’ fī Faḍā’il ats-Tsalātsah al-A’immah al-Fuqahā’ karya Ibnu ‘Abdil Barr (h. 36); al-Bayān wat-Taḥṣīl karya Ibnu Rusyd al-Jadd (18/478). Lihat pula: al-Jāmi‘ karya Ibnu Abi Zaid al-Qairawani (h. 123–124).

[28]Syarḥ Uṣūl I‘tiqād Ahlis Sunnah wal Jamā‘ah karya al-Lālikā’ī (3/518); Syarḥ as-Sunnah karya al-Baghawi (15/230).

[29]asy-Syarī‘ah karya al-Ajurri (2/984); Syarḥ Uṣūl I‘tiqād Ahlis Sunnah wal Jamā‘ah karya al-Lālikā’ī (3/555); Ḥilyah al-Awliyā’ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’ karya Abu Nu‘aim (6/326). Lihat pula: Syarḥ as-Sunnah karya al-Baghawi (15/230).

[30]Lihat: as-Sunnah karya ‘Abdullah bin Ahmad (1/174); asy-Syarī‘ah karya al-Ajurri (2/608); Ḥilyah al-Awliyā’ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’ karya Abu Nu‘aim (6/327); Syarḥ Uṣūl I‘tiqād Ahlis Sunnah wal Jamā‘ah karya al-Lālikā’ī (5/1030); al-Intiqā’ fī Faḍā’il ats-Tsalātsah al-A’immah al-Fuqahā’ karya Ibnu ‘Abdil Barr (h. 36).

[31]al-Bayān wat-Taḥṣīl karya Ibnu Rusyd al-Jadd (18/585).

[32]asy-Syarī‘ah karya al-Ajurri (2/606, 641); Syi‘ār Aṣḥāb al-Ḥadīts karya Abu Aḥmad al-Ḥākim (h. 28); al-Ibānah al-Kubrā karya Ibnu Baththah (2/813); Syarḥ Uṣūl I‘tiqād Ahlis Sunnah wal Jamā‘ah karya al-Lālikā’ī (5/1028–1029); al-Intiqā’ fī Faḍā’il ats-Tsalātsah al-A’immah al-Fuqahā’ karya Ibnu ‘Abdil Barr (h. 34).

[33]al-Ibānah al-Kubrā karya Ibnu Baththah (2/813).

[34]al-Jāmi‘ karya Ibnu Abi Zaid al-Qairawani (h. 123). Dan dalam kitab ar-Risālah karya Ibnu Abi Zaid al-Qairawani (h. 8) disebutkan: “Iman adalah ucapan dengan lisan, keikhlasan dengan hati, dan amal dengan anggota badan. Ia bertambah dengan bertambahnya amal, dan berkurang dengan berkurangnya amal. Maka di dalamnya terdapat pengurangan dan dengan amal pula terdapat penambahan. Tidak sempurna ucapan iman kecuali dengan amal, dan tidak ada ucapan dan amal kecuali dengan niat, dan tidak ada ucapan, amal, dan niat kecuali dengan kesesuaian dengan sunnah.”

[35]al-Īmān karya al-Qāsim bin Sallām (h. 44).

[36]Syi‘ār Aṣḥāb al-Ḥadīts karya Abu Aḥmad al-Ḥākim (h. 29). Lihat pula: Syarḥ Uṣūl I‘tiqād Ahlis Sunnah wal Jamā‘ah karya al-Lālikā’ī (5/1031).

[37] Ādāb asy-Syāfi‘ī wa Manāqibuh karya Ibnu Abi Ḥātim (h. 142–143); Syarḥ Uṣūl I‘tiqād Ahlis Sunnah wal Jamā‘ah karya al-Lālikā’ī (1/165–166); Ḥilyah al-Awliyā’ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’ karya Abu Nu‘aim (9/111); Aḥādīts fī Dzammi al-Kalām wa Ahlih karya Abu al-Faḍl al-Muqri’ (h. 102–103); Syarḥ as-Sunnah karya al-Baghawi (1/217).

[38] Ādāb asy-Syāfi‘ī wa Manāqibuh karya Ibnu Abi Ḥātim (h. 137); Aḥādīts fī Dzammi al-Kalām wa Ahlih karya Abu al-Faḍl al-Muqri’ (h. 81); Manāqib asy-Syāfi‘ī karya al-Baihaqi (1/453–454); al-Intiqā’ fī Faḍā’il ats-Tsalātsah al-A’immah al-Fuqahā’ karya Ibnu ‘Abdil Barr (h. 78); Syarḥ as-Sunnah karya al-Baghawi (1/217).

[39] Ādāb asy-Syāfi‘ī wa Manāqibuh karya Ibnu Abi Ḥātim (h. 142).

[40] Ḥafṣ al-Fard: termasuk golongan Jabariyyah dan salah satu tokoh besarnya. Ia dikenal dengan kunyah Abu ‘Amr, dan berasal dari Mesir. Lihat: al-Fihrist karya an-Nadīm (h. 223).

[41] Tārīkh Dimasyq karya Ibnu ‘Asākir (51/310).

[42]Siyar A‘lām an-Nubalā’ (10/19).

[43]Ḥilyah al-Awliyā’ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’ karya Abu Nu‘aim (9/111); al-Intiqā’ fī Faḍā’il ats-Tsalātsah al-A’immah al-Fuqahā’ karya Ibnu ‘Abdil Barr (h. 79).

[44]al-Intiqā’ fī Faḍā’il ats-Tsalātsah al-A’immah al-Fuqahā’ karya Ibnu ‘Abdil Barr (h. 79).

[45]Ādāb asy-Syāfi‘ī wa Manāqibuh karya Ibnu Abi Ḥātim (h. 141).

[46]Tārīkh al-Islām (5/162) dan Siyar A‘lām an-Nubalā’ (10/29), keduanya karya adz-Dzahabi; Ṭabaqāt asy-Syāfi‘iyyah karya Ibnu Katsir (1/47).

[47]Tārīkh al-Islām (5/162) dan Siyar A‘lām an-Nubalā’ (10/29), keduanya karya adz-Dzahabi; Ṭabaqāt asy-Syāfi‘iyyah karya Ibnu Katsir (1/47).

[48]Aḥādīts fī Dzammi al-Kalām wa Ahlih karya Abu al-Faḍl al-Muqri’ (h. 91–92).

[49]al-Umm (2/125); asy-Syarī‘ah karya al-Ajurri (3/1127); al-Ibānah al-Kubrā karya Ibnu Baththah (7/240–241). Dan Abu Nu‘aim meriwayatkan dalam Ḥilyah al-Awliyā’ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’ (9/141) dari Ibrahim bin Muhammad asy-Syafi‘i, ia berkata: Aku mendengar Ibnu Idris asy-Syafi‘i berkata: “Ibnu ‘Abbas berkata kepada seseorang: ‘Apakah ini?’ Lalu orang itu memberitahunya. Kemudian Ibnu ‘Abbas memperlihatkan sesuatu yang lebih jauh darinya dan berkata: ‘Apakah ini?’ Ia menjawab: ‘Pandangan tidak mampu mencapainya.’ Maka Ibnu ‘Abbas berkata: ‘Sebagaimana pandanganmu diberi batas yang ia berhenti padanya, maka demikian pula akalmu diberi batas yang ia berhenti padanya.’”

[50]Ādāb asy-Syāfi‘ī wa Manāqibuh karya Ibnu Abi Ḥātim (h. 207); Manāqib asy-Syāfi‘ī karya al-Baihaqi (2/187).

[51]al-Intiqā’ fī Faḍā’il ats-Tsalātsah al-A’immah al-Fuqahā’ karya Ibnu ‘Abdil Barr (h. 71).

[52] ar-Risālah (1/580).

[53] al-Umm (5/174).

[54] Ādāb asy-Syāfi‘ī wa Manāqibuh karya Ibnu Abi Ḥātim (h. 177–178); Manāqib asy-Syāfi‘ī karya al-Baihaqi (2/30).

[55] al-Bidāyah wan-Nihāyah (14/138–139).

[56] Itsbāt Ṣifat al-‘Uluw karya Ibnu Qudāmah (h. 180–181); al-‘Arsy karya adz-Dzahabi (2/289–290); al-‘Uluw lil-‘Aliyyil Ghaffār karya adz-Dzahabi (h. 165).

[57] Itsbāt Ṣifat al-‘Uluw karya Ibnu Qudāmah (h. 181); Siyar A‘lām an-Nubalā’ karya adz-Dzahabi (10/79–80).

[58]Diriwayatkan oleh al-Bukhari (7437) dan Muslim (182) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Lafaz al-Bukhari: “Sesungguhnya manusia berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari Kiamat?’ Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Apakah kalian saling berdesakan untuk melihat bulan pada malam purnama?’ Mereka menjawab: ‘Tidak, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Apakah kalian berdesakan untuk melihat matahari yang tidak tertutup awan?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Beliau bersabda: ‘Maka sesungguhnya kalian akan melihat-Nya seperti itu…’”

[59]al-Intiqā’ fī Faḍā’il ats-Tsalātsah al-A’immah al-Fuqahā’ karya Ibnu ‘Abdil Barr (h. 79).

[60]Syarḥ Uṣūl I‘tiqād Ahlis Sunnah wal Jamā‘ah karya al-Lālikā’ī (3/560).

[61]Ma‘rifat as-Sunan wal-Ātsār karya al-Baihaqi (1/191); Manāqib asy-Syāfi‘ī karya al-Baihaqi (1/420).

[62]Manāqib asy-Syāfi‘ī karya al-Baihaqi (1/397–398).

[63]Diriwayatkan secara panjang oleh at-Tirmidzi (2658), asy-Syafi‘i dalam al-Musnad (1806) dengan lafazhnya, dan al-Ḥumaidi (88). Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Ḥajar dalam Muwāfaqat al-Khabar al-Khabar (1/364), oleh al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Sunan at-Tirmidzi (2658), dan sanadnya dishahihkan oleh Syu‘aib al-Arna’uth dalam takhrij Syarḥ as-Sunnah (112).

[64]ar-Risālah (h. 384, 401–403).

[65] ar-Risālah (h. 435–438).

[66] ar-Risālah (h. 453–458).

[67] Ma‘rifat as-Sunan wal-Ātsār karya al-Baihaqi (1/192); Manāqib asy-Syāfi‘ī karya al-Baihaqi (1/385); al-Intiqā’ fī Faḍā’il ats-Tsalātsah al-A’immah al-Fuqahā’ karya Ibnu ‘Abdil Barr (h. 81). Lihat pula: Ḥilyah al-Awliyā’ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’ karya Abu Nu‘aim (9/110).

[68]Ādāb asy-Syāfi‘ī wa Manāqibuh karya Ibnu Abi Ḥātim (h. 146–147); al-Ibānah al-Kubrā karya Ibnu Baththah (2/826); Syarḥ Uṣūl I‘tiqād Ahlis Sunnah wal Jamā‘ah karya al-Lālikā’ī (5/956); Ma‘rifat as-Sunan wal-Ātsār karya al-Baihaqi (1/192); Manāqib asy-Syāfi‘ī karya al-Baihaqi (1/386–387).

[69]al-Ibānah al-Kubrā karya Ibnu Baththah (2/826). Lihat pula: Ādāb asy-Syāfi‘ī wa Manāqibuh karya Ibnu Abi Ḥātim (h. 147); Syarḥ Uṣūl I‘tiqād Ahlis Sunnah wal Jamā‘ah karya al-Lālikā’ī (5/1034).

Tinggalkan Komentar

By admin