Setiap Kita adalah Dai
Karena kewajiban menyampaikan kebenaran tidak hanya terbatas pada para ustaz atau tokoh agama, tetapi mencakup seluruh kaum Muslimin sesuai dengan kadar ilmu yang dimiliki. Rasulullah ﷺ bersabda, “بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً” (“Sampaikan dariku walau satu ayat”) – HR. Bukhari. Hadis ini mengandung tiga makna: taklīf (beban tugas menyampaikan amanah dakwah), tasyrīf (kehormatan bagi yang menyampaikan dinisbatkan kepada kemuliaan Rasulullah), dan takhfīf (kemudahan, karena cukup dengan satu ayat saja kita sudah bisa berdakwah). Jika kita telah menghafal Surah al-Fatihah (tujuh ayat) yang merupakan rukun salat, maka kita telah memiliki bekal dasar untuk berdakwah, terutama kepada orang-orang terdekat seperti orangtua, istri, dan anak-anak kita. Mereka adalah amanah pertama yang harus kita bimbing menuju kebenaran dan keselamatan di dunia serta akhirat.
Makna Dakwah dan Urgensinya
Dakwah secara bahasa artinya mengajak. Tidak kurang dari empat puluh enam kali kata dakwah dan derivatnya terulang dalam Al-Qur’an. Para nabi dan rasul adalah para dai sejati yang telah mengajak umatnya dari jurang kemusyrikan menuju kemuliaan tauhid.
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحُكْمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا۟ عِبَادًۭا لِّى مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَـٰكِن كُونُوا۟ رَبَّٰنِيِّۧنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ ٱلْكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ
Terjemahnya: “Tidak sepatutnya seseorang yang telah diberikan Allah al-Kitab, al-Hikmah, dan kenabian oleh Allah lalu ia berkata kepada manusia, ‘Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah.’ Akan tetapi (dia berkata), ‘Jadilah kamu orang-orang Rabbani karena kamu mengajarkan al-Kitab dan karena kamu mempelajarinya.” (QS. Āli ‘Imrān: 79)
Karena dakwah-lah diri, keluarga, kelompok, dan umat ini menjadi mulia,
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ
Terjemahnya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah.” (QS. Āli ‘Imrān: 110)
Gerakan dakwah adalah keniscayaan yang tak boleh berhenti,
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
Terjemahnya: “Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Āli ‘Imrān: 104)
Saat Allah Ta’ala memudahkan kita dalam menjalankan ibadah apapun, hendaknya kita selalu bersyukur dan terus memohon taufik serta petunjuk-Nya agar tetap istiqamah menjalankannya. Termasuk ketika Allah memberikan kemudahan sehingga kita bisa sedikit berperan dalam dakwah, kita harus senantiasa mengingat bahwa semua itu adalah karunia dari-Nya.
Namun, setan sering memanfaatkan kesempatan kecil ini untuk menjebak manusia. Ia menggoda orang-orang yang telah berjuang dalam dakwah agar bersikap sombong di hadapan sesama. Mereka merasa bahwa keberhasilan dakwah saat ini sangat bergantung pada peran besar mereka. Mereka percaya jika tanpa kehadiran dan andil mereka, dakwah akan berhenti dan tidak berjalan. Rasa merasa sangat dibutuhkan ini dan kebanggaan yang berlebihan itu bisa merusak amal mereka sendiri.
Penyakit-penyakit dalam Dakwah dan Terapinya:
1. Orientasi Dunia (حُبُّ الدُّنْيَا)
Dakwah dilakukan hanya untuk kesenangan dunia dan bukan karena Allah.
فَأَعْرِضْ عَن مَّن تَوَلَّىٰ عَن ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا
Terjemahnya: “Tinggalkanlah orang yang berpaling dari peringatan Kami dan hanya menginginkan kehidupan dunia!” (QS. An-Najm: 29)
ذَٰلِكَ مَبْلَغُهُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱهْتَدَىٰ
Terjemahnya: “Itulah batas pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Najm: 30)
Terapinya adalah Tajdid/Perbaharui Niat dan Fokus Akhirat
Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan dakwah akan mudah goyah dan kecewa. Maka, terapi utamanya adalah memperbaharui niat secara berkala dan memusatkan orientasi kepada akhirat.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
Terjemahnya: “Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An‘ām: 162)
Seorang da’i yang tulus akan istiqamah meskipun tanpa tepuk tangan atau materi. Ia berorientasi pada pahala, bukan popularitas. Maka, da’i sejati harus senantiasa memperbaharui niat di setiap langkahnya.
2. Merasa Paling Hebat dan Egois (الأنَانِيَّةُ)
Keakuan karena popularitas, kepandaian, atau kedudukan.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا، وَنَعْلُهُ حَسَنَةً.
فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ. الْكِبْرُ: بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ
Artinya: “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Seorang laki-laki bertanya, “Bagaimana jika seseorang senang memakai pakaian dan sandal yang bagus?” Rasul menjawab: “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)
Terapinya adalah Tazkiyatun Nafs dan Tawadhu’
Kesombongan akan menghancurkan amal dan memutus ukhuwah. Terapi utamanya adalah membersihkan jiwa (tazkiyah) dan membiasakan kerendahan hati (tawadhu’), dengan menyadari bahwa segala kelebihan hanyalah titipan-Nya.
وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًۭا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَـٰمًا
Terjemahnya: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (adalah) orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati…” (QS. Al-Furqān: 63)
Da’i sejati tidak bangga dengan pencapaian pribadi, tetapi takut amalnya tidak diterima. Ia berlomba memperbaiki diri, bukan mencari pujian.
3. Figuritas (الوَجَاهِيَّةُ)
Kebenaran dilihat dari siapa yang menyampaikan, bukan dari apa yang disampaikan.
وَعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيلَةٌ
وَعَيْنُ السُّخْطِ تُبْدِي الْمَسَاوِيَا
“Pandangan yang diliputi keridhaan akan menutupi segala aib.
Pandangan kebencian akan menampakkan semua keburukan.”
→ Maka, jadilah orang yang menerima kebenaran karena isi dan bukan karena siapa yang berkata.
رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُولًا
“Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai nabiku dan rasul.”
Terapinya adalah Memuliakan Kebenaran, Bukan Tokoh
Kebenaran itu independen, tidak bergantung siapa yang menyampaikannya. Terapi utama dari figuritas adalah mendidik diri dan umat agar mencintai kebenaran karena substansinya, bukan karena ketokohan orang yang menyampaikan.
فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ وَٱسْمَعُوا۟ وَأَطِيعُوا۟
Terjemahnya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah semampu kalian, dengarlah dan taatlah…” (QS. At-Taghābun: 16)
Jika kebenaran datang dari anak kecil, kita terima. Jika kebatilan datang dari tokoh besar, kita tolak. Karena standar kita bukan sosok, tapi wahyu.
4. Fanatik Golongan (العَصَبِيَّةُ الجَاهِلِيَّةُ)
Menganggap kelompoknya paling benar dan menolak selainnya.
مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًۭا ۖ كُلُّ حِزْبٍۢ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
Terjemahnya: “(yaitu) orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan menjadi golongan-golongan. Setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (QS. Ar-Rūm: 32)
Terapinya adalah Ukhuwah Islamiyah dan Tarbiyah Wahdaniyah
Fanatik golongan memecah barisan dakwah. Terapi utamanya adalah memperkuat kesadaran ukhuwah bahwa semua da’i adalah satu tubuh yang saling melengkapi. Tarbiyah harus berorientasi pada kesatuan umat, bukan hanya loyalitas kepada kelompok.
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
Terjemahnya: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu…” (QS. Al-Ḥujurāt: 10)
Golongan adalah wasilah, bukan tujuan. Jika dakwah terbelah karena ego kelompok, maka kemenangan akan menjauh. Sementara, jika da’i bersatu dalam aqidah dan amal, maka pertolongan Allah akan turun.
5. Kurang Ikhlas dalam Berdakwah (Merasa Paling Punya Jasa dalam Dakwah)
Dakwah harus dilandasi niat yang ikhlas karena Allah, bukan karena popularitas atau kepentingan pribadi.
قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُم بِوَاحِدَةٍ أَن تَقُومُوا لِلَّهِ
Terjemahnya: “Katakanlah: Sesungguhnya aku hanya memberi nasihat kepadamu satu hal saja, yaitu agar kamu berdiri karena Allah…” (QS. Saba: 46)
Bahaya Merasa Punya Jasa dalam Dakwah
Ketika Allah Ta’ala memudahkan seseorang untuk beribadah dan berkontribusi dalam dakwah, hendaknya ia senantiasa bersyukur dan memohon taufik agar istiqamah. Namun, setan sering memanfaatkan peluang kecil untuk menjerumuskan orang tersebut menjadi sombong dan merasa punya jasa besar dalam dakwah. Rasa bangga diri dan menganggap diri sangat penting dalam dakwah adalah ciri khas masyarakat jahiliyyah dan dapat merusak amal serta hati.
Allah Ta’ala mencela orang yang sombong atas amalnya dalam QS. Al-Mu’minun: 67,
مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سَامِرًا تَهْجُرُونَ
Terjemahnya: “Dengan menyombongkan diri (terhadap Al-Qur’an atau iman) dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari.”
Terapinya adalah Perbaiki niat dan perbaharui keikhlasan dengan selalu mengingat bahwa dakwah hanya untuk mencari ridha Allah, bukan popularitas atau keuntungan duniawi.
Keikhlasan dalam berdakwah adalah kunci agar amal diterima oleh Allah. Saat niat sudah benar, maka segala usaha dan perjuangan menjadi ibadah yang mulia, terhindar dari riya’ dan kesombongan.
إِنَّمَا ٱلْأَعْمَالُ بِٱلنِّيَّاتِ
Artinya: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan niat yang lurus, hati menjadi tenang dan kekuatan dakwah pun terjaga, tidak mudah goyah oleh godaan duniawi atau pujian manusia.
Agar terhindar dari penyakit merasa punya jasa dalam dakwah, perbaikilah niat dengan selalu mengingat bahwa segala kemudahan dan kontribusi dalam dakwah adalah anugerah dari Allah yang harus disyukuri. Hindari sikap sombong dan ‘ujub dengan menjadikan amal dakwah sebagai bentuk ibadah yang ikhlas hanya untuk mencari ridha-Nya, bukan untuk mencari pujian atau popularitas. Selalu tanamkan rasa tawadhu’ dengan menganggap amal kita masih sedikit dan teruslah berusaha memperbaiki serta memperbanyak kebaikan. Memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang ingin menjerumuskan ke dalam kesombongan juga sangat penting agar hati tetap bersih dan amal kita diterima dengan berkah.
6. Tidak Menyiapkan Materi Dakwah dengan Baik
Hendaknya menghormati akal dan waktu para pendengar/mad’u/mutarabbi kita dengan persiapan yang matang, bukan asal bicara, dan bukan asal bunyi (asbun). Jangan tiba waktu tiba akal.
Hayati, sadari, dan hadirkanlah dalam sanubari iman kita bahwa yang pertama kali melihat dan mendengar materi dakwah kita adalah Allah Ta’ala kemudian selanjutnya adalah mad’u (objek dakwah) kita.
Terapinya adalah Tingkatkan ilmu, belajar skill dakwah, dan persiapkan materi dakwah secara matang agar pesan tersampaikan efektif dan bermanfaat bagi pendengar.
Ilmu adalah modal utama dai agar dapat menyampaikan pesan dengan jelas, benar, dan meyakinkan. Persiapan yang matang akan membuat dakwah lebih terstruktur dan mudah diterima.
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Terjemahnya: “Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’” (QS. Thaha: 114)
Ilmu yang bertambah memperkuat dakwah dan menghindarkan dari kesalahan yang bisa menimbulkan keraguan atau penolakan.
7. Berburuk Sangka terhadap Objek Dakwah
Jangan menilai seseorang hanya dari penampilan luar. Bisa jadi ia memiliki hati yang lembut dan mencintai kebaikan.
Terapinya adalah Latih diri untuk berbaik sangka kepada semua orang, membuka hati, dan memberi kesempatan agar dakwah diterima tanpa prasangka negatif.
Berbaik sangka membuat hati terbuka menerima orang lain tanpa prasangka buruk, sehingga proses dakwah menjadi lebih mudah dan penuh rahmat.
Hadis riwayat Anas bin Malik:
Ketika seorang laki-laki beberapa kali dihukum karena minum khamr, lalu ada yang melaknatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا تَلْعَنُوهُ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
Artinya: “Jangan kalian melaknatnya, karena ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)
Hati yang lapang menjadikan dakwah berjalan lancar dan menghindarkan dai dari sikap kasar yang bisa mematikan semangat pendengar.
8. Cepat Bosan dan Mudah Menyerah dalam Dakwah
Jalan dakwah penuh ujian. Seorang dai harus siap menampung masalah umat dan bersabar.
Terapinya adalah Perkuat kesabaran dan tekad, ingat selalu bahwa dakwah adalah jalan penuh ujian yang membutuhkan ketabahan dan keteguhan hati.
Kesabaran adalah kunci bertahan di medan dakwah. Ujian dan tantangan harus disikapi dengan keteguhan hati agar tidak mudah menyerah.
وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّهِ
Terjemahnya: “Bersabarlah, dan kesabaranmu itu tidak lain hanyalah dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)
Kesabaran membawa keberkahan dan pertolongan Allah, membuka jalan bagi kemenangan dan hasil dakwah yang baik.
9. Terlalu Sibuk dengan Urusan Dunia hingga Melalaikan Dakwah
Boleh berdakwah sambil bekerja, tapi jangan sampai mencari nafkah mengalahkan tugas dakwah jika masih diberi taufik/kesempatan/pilihan/SK.
Terapinya adalah Atur waktu dan prioritas dengan bijak agar urusan dunia tidak menghalangi tugas dakwah, tetap utamakan mengingat Allah dan berdakwah.
Manajemen waktu penting agar keseimbangan antara dunia dan akhirat terjaga, sehingga dakwah tidak terabaikan oleh kesibukan duniawi.
يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَآ أَوْلَـٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ
Terjemahnya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)
Prioritas yang tepat membuat dakwah tetap berjalan meski ada urusan dunia, dan hati tetap dekat dengan Allah.
10. Kurang Menjaga Kualitas dan Kuantitas Objek Dakwah/Kader
“Jangan cari istri baru dan menjandakan istri lama…”
“Jangan sibuk mencari kader baru dan mengabaikan kader lama…”
“Tapi yang lama dijaga kualitasnya dan yang baru ditambah kuantitas kebaikannya.”
Terapinya adalah Jaga dan rawat kader lama dengan baik sambil menambah kader baru, seimbangkan perhatian agar akar dan cabang dakwah tetap kuat dan berkembang.
Memperhatikan kader lama agar kualitas dan semangatnya terjaga, sambil menambah kader baru untuk kesinambungan dakwah, adalah cara menjaga kekuatan dan keberlanjutan perjuangan.
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَـٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ۚ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Terjemahnya: “Dan orang-orang yang datang setelah mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’ (QS. Al-Hasyr: 10)
Kader lama adalah akar yang harus dirawat, sementara kader baru adalah cabang yang perlu ditumbuhkan. Keduanya harus seimbang untuk menghasilkan dakwah yang kuat dan lestari.
Penutup dan Doa
Penyakit dalam dakwah adalah racun yang tak kasat mata, tetapi bisa mematikan. Maka, terapi ruhiyah, ilmiah, dan tazkiyah harus terus dihidupkan dalam barisan da’i. Karena yang kita perjuangkan bukan kejayaan diri, tapi kejayaan Islam. Semoga kita semua dijauhkan dari penyakit-penyakit dakwah ini. Semoga Allah menjadikan kita para da‘i rabbani, yang istiqamah menegakkan Islam, menjaga keutuhan NKRI, dan menebarkan rahmat Islam untuk semesta.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
Wallahu a’lam.
Disarikan dari Referensi:
- Syarh Masaail Al-Jahiliyyah karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullahu Ta’ala, halaman 254-255, cetakan pertama oleh penerbit Daarul ‘Ashimah, tahun 1421 H.
- Mukhtashar Al-Fiqh Al-Islami (Ringkasan Fikih Islam) Bab Dakwah kepada Allah ‘Azza wa Jalla (Kitab ad-Da‘wah ilallāh), karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri. Cetakan Maktab Dakwah dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com, 2012 / 1433 H.
- Muhimmatun fil Jihād karya Abdul ‘Aziz bin Rayyis ar-Rayyis, dengan pengantar dari Syaikh Shālih bin Fauzān al-Fauzān dan Syaikh Abdul Muhsin bin Nāshir al-‘Ubaikān. Cetakan tahun 1424 H.
